Kamis, 09 April 2009

Cerita Lesbi

Bercumbu dengan Ibuku

Aku adalah penulis cerita "AKU DAN TANTE-TANTE", "AKU DAN CHINTYA", "KISAH AMBAR" dan "AKU, AMBAR DAN ULLY". Setelah selesai menulis cerita tentang ibuku, aku membacanya sambil menghayati. Tanganku meremas kedua payudaraku sendiri. Kemudian kulanjutkan dengan melepas satu persatu kancing bajuku sehingga bajuku terbuka tetapi belum kulepaskan. Tanganku lalu melepas BH yang kupakai. Aku menjadi leluasa dalam meremas kedua payudaraku. Setelah beberapa lama meremas kedua payudaraku, tangan kananku turun ke bawah dan menarik retsliting celana jeans pendek yang kupakai. Tanganku langsung mengusap liang kenikmatanku yang yang sudah bebas menantang dan mulai basah dan dilanjutkan dengan jariku masuk ke dalam liang kenikmatanku.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh ibuku.
"Cerita Ibu sudah kamu ketik Mit." "Sudah Bu. Ini kalau Ibu mau periksa."
Kujawab pertanyaan ibuku sambil berdiri mengancingkan bajuku. Tapi belum sempat aku mengancingkan bajuku, ibuku sudah berkata lagi, "Bajumu jangan kamu kancingkan dulu. Ibu mau kamu mengajari, bagaimana bercumbu supaya tahan lama."
Aku kaget mendengar perkataan ibuku. Aku ingin berbicara untuk menolak. Tetapi mulutku seakan terkunci melihat ibuku sudah melepas bajunya dan ternyata dia tidak memakai BH. Kedua payudaranya yang lebih besar sedikit dari kedua payudaraku membuatku ingin menghisapnya.

Ibuku lebih dulu menghampiriku sambil berkata, "Puaskan aku, sayaang.." Aku hanya diam ketika ibuku sudah melepas bajuku dan meremas kedua payudaraku. Akupun tidak tinggal diam. Kedua tanganku meremas kedua payudara ibuku. Aku ingin mendesah ketika remasan ibuku terlalu kuat, tetapi bibirku dicium oleh ibuku dan aku membalas ciumannya. Mulut ibuku turun dan menghisap kedua payudaraku bergantian sambil meremasnya dan juga melepaskan bajunya. Tanganku memegang kepala ibuku.

Setelah beberapa lama, mulut ibuku naik kembali ke atas dan mencium bibirku. Gantian mulutku yang turun ke bawah dan menghisap kedua payudara ibuku, bergantian sambil meremasnya. Setelah aku puas dengan itu, mulutku naik lagi ke atas dan kukeluarkan lidahku yang disambut dengan lidah ibuku yang juga dikeluarkan. Lidah kami saling berjilatan. Sedangkan tangan kami juga memegang kedua payudara masing-masing untuk ditempelkan. Setelah kedua payudaraku dan kedua payudara ibuku menempel, ibuku memelukku dan kami berdua saling mendesah panjang.

Ibuku mencium leherku dan naik ke atas mencium bibirku sambil melepaskan celana panjangnya sehingga kini dia tinggal memakai celana dalam saja. Mulutnya turun ke bawah dan menghisap payudaraku dan tangannya menarik retsliting celana jeans pendek yang kupakai. Tanganku memegang tangannya supaya ibuku tidak melakukannya sambil berkata, "Kalau yang itu dengan temanku saja Bu." Aku kemudian melepaskan hisapannya. "Sebentar, aku telepon dia."

Akupun memakai bajuku kembali dan kulihat ibuku menelentangkan dirinya di tempat tidur dan membaca majalah yang ada di dekatnya tanpa memakai kembali pakaiannya. Aku keluar dari kamar dan menelepon Ambar dan dia ternyata mau melayani ibuku. Aku masuk kamar dan memberitahu ibuku kalau Ambar mau. Kulihat ibuku sudah melepas CD-nya. Akupun keluar dan menonton televisi sambil menunggu Ambar.

Beberapa saat kemudian Ambar pun datang. Setelah kami saling berpelukan dan berciuman, dia kusuruh langsung masuk ke kamar dan kulihat dia langsung menjilati liang kenikmatan ibuku tanpa melepas pakaiannya. Dan aku kembali menonton televisi. Aku tidak konsentrasi lagi dalam menonton televisi setelah mendengar desahan-desahan Ambar yang lain dari biasanya. Aku penasaran apa yang dilakukan ibuku terhadap Ambar. Aku masuk ke kamar dan melihat ibuku melakukan apa yang belum pernah kulakukan selama aku bercumbu dengan sesama wanita. Ibuku sedang menggesekkan puting payudaranya pada liang kenikmatan Ambar yang sudah telanjang bulat sedangkan tangannya meremas-remas kedua payudara Ambar.

Aku terangsang melihat hal itu. Aku langsung melepas semua pakaianku dan mencium bibir Ambar sambil tanganku ikut meremas-remas kedua payudaranya. Kemudian secara spontan dan bersamaan mulutku menghisap payudara kanan Ambar dan mulut ibuku menghisap payudara kiri Ambar. Ambar mendesah dan jari tengah tanganku dan jari tengah ibuku sudah masuk ke dalam liang kenikmatan Ambar. Kami berdua mengeluarmasukkan jari ke dalam liang kemaluan Ambar dan mengocoknya. Entah mengapa aku kemudian melepaskan diri dari percumbuan itu. Aku berdiri dan akan keluar dari kamar.

Tiba-tiba dari belakang Ambar memelukku dan meremas kedua payudaraku. Aku menikmatinya dan tidak menyadari bahwa ibuku sudah berada di depanku. Ibuku memelukku dari depan dan menggesekkan liang kenikmatannya pada liang kenikmatanku. Aku juga diciumnya dan juga lidah kami berdua saling menjilat.

Tiba-tiba handphone milik Ambar berbunyi. Ambar melepaskan pelukannya dan menerima panggilan dari handphone-nya. Ibuku lalu membawaku ke tempat tidur sambil tetap memelukku. Ambar pun minta permisi karena ada urusan mendadak. Aku dan ibuku tidak peduli. Kini giliran liang kenikmatanku yang digesek oleh puting payudara ibuku. Aku mendesah dan langsung saja ibuku menindihku sambil memelukku dan menciumku. Setelah beberapa lama ibuku lalu meregangkan pelukannya dan kedua payudaranya digesekkan ke payudaraku. Liang kenikmatan kami berdua pun ikut juga bergesekan.

Setelah ibuku puas, ibuku lalu telentang di sampingku. Aku ingin gantian yang berada di atasnya. Tetapi kaki ibuku digesek-gesekkan ke liang kenikmatanku dan kaki yang satunya lagi digesek-gesekkan ke kakiku. Tapi itu tidak lama. Niatku semula akhirnya terwujud. Aku kemudian menindih ibuku. Lalu mencium bibirnya dan menjilati lidahnya. Lalu tubuhku agak naik ke atas dan kedua payudaraku kugesekkan ke kedua payudaranya. Lalu mulutku turun ke bawah. Kujilati dan kuhisap payudara kanannya dan payudara kirinya kuremas. Lalu gantian kujilati dan kuhisap payudara kirinya dan payudara kanannya yang kuremas. Lalu mulutku menghentikan jilatan dan hisapan sambil tetap meremas. Puting payudaraku kugesekkan ke liang kemaluan ibuku dan payudaraku yang satunya lagi diremas oleh ibuku. Selanjutnya mulutku turun ke bawah dan menghisap liang kenikmatan ibuku sambil jariku masuk ke dalamnya, mengeluarmasukkan dan mengocoknya.

Setelah aku puas, kembali aku menindih ibuku. Kami berdua tertawa kecil. Tubuhku kemudian dibalik sehingga akupun ditindih oleh ibuku. Ibuku akan gantian memperlakukanku seperti aku memperlakukan ibuku. Hal itu tidak terjadi karena terdengar klakson mobil. Aku dan ibuku ingat bahwa ayahku hari itu akan pulang dari tugasnya di luar kota. Kami berdua berpakaian kembali dan menjumpai ayahku untuk melepas rindu.

Sejak itu apabila ada kesempatan, ketika ayahku tugas keluar kota. Setelah Ambar bercumbu denganku, giliran ibuku yang mencumbunya. Sedangkan aku keluar dari rumah supaya aku tidak ikut bergabung dengan mereka. Cukup satu kali saja aku bercumbu dengan ibuku.

Buat para pembaca wanita, yang ingin berkenalan denganku silakan kirim e-mail. Sertakan biodata diri dan foto serta pengalaman pertama kali menjadi lesbi.


Nikmat Tak Terbayangkan


Category:




Sebenarnya aku malu menceritakan kejadian yang sampai sekarang masih sering kulakukan ini. Aku adalah seorang ibu rumah tangga dan aku juga punya status sebagai janda. Kehidupan aku cukup baik, karena peninggalan deposito dari suami dan kadang-kadang ada bisnis jual beli perhiasan dengan teman. Anak aku ada 2 orang dan mereka semua sekolah di Jogya, karena dekat dengan kakek neneknya. Dirumah aku cuma ditemani oleh Surti (pembantu) dan Remi, anjing herder peninggalan suami juga.

Suatu hari teman jual beli perhiasan aku yang bernama Tina datang kerumah. Teman bisnis aku banyak, dengan Tina aku baru kenal kira2 1 bulan yang lalu. Usia wanita itu sama dengan aku dan punya anak satu, wajahnya cukup cantik ditambah dengan make up yang pandai, dan Tina tahu cara merawat tubuh dengan baik, aku mendengar dari teman2 bahwa dia sangat pandai dalam berbisnis perhiasan, apalagi ditambah kepandaiannya berbicara merayu pembeli. Tina datang kerumahku hari itu untuk menitipkan perhiasan yang hendak dijual, biasanya kami suka bertemu direstoran padang langganannya, tumben hari ini dia datang mengunjungiku.

“Halooo Rin…….apa khabar nih???” aku tersenyum senang sambil membalas salam Tina.
“Tumben, kok bisa nyasar kesini Tin?”
“Kangen aku tidak ketemu kamu 2 minggu”
“Ahhhh….bisa aja….ayo masuk, maaf ya rumah aku berantakan dan kecil” aku mempersilahkan Tina masuk keruang tamu.
“Ah rumah kamu bagus kok, dilingkungan elite lagi” Komentar Tina sambil duduk disofa.
“Seperti yg tadi kukatakan di telepon, aku ingin menitipkan perhiasan ini untuk kamu jualin, soalnya lusa aku akan keluar kota dengan suamiku” Kulihat Tina mengeluarkan kantong beludru hitam dari dalam tasnya.
“Lebih baik dikamar saja Tin, soalnya si Surti ada di dapur” Ajak aku. aku selalu berhati2 dalam berbisnis di bidang ini. Tina mengikuti masuk kekamar aku. Lalu kami duduk diatas ranjang dan Tina mengeluarkan semua isi kantung beludru itu. Perhiasan bertahtakan berlian terpampang diatas ranjang, berkilauan. aku kuatir juga melihat perhiasan banyak begitu, aku mengambil salah satu kalung yang paling indah.

“Waah indah sekali kalung ini” Kataku, lalu aku mencoba memasangnya dileherku.
“Sini aku bantu” Tina beranjak kebelakangku, lalu tangannya berusaha mengaitkan kunci kalung itu.
“Leher kamu bagus sekali Rin” Ujar Tina, kurasakan leherku dibelainya, bulu romaku jadi berdiri, perasaanku jadi nggak enak. Lalu tangan Tina membelai pipiku, sementara tangannya yang lain menelusuri leherku terus merayap menuju dadaku.

“Tin….jangan gitu ah…..aku jadi geli nih” Tapi Tina tidak menjawab. Tiba2 aku merasakan pipi kiriku panas, aku menoleh, belum sempat aku sadar apa yang membuat panas pipiku, bibir Tina sudah menyambar bibirku. Aku gelagapan dan aku berontak berusaha menghindar, tapi Tina seperti kesetanan, ia terus menekan mulutnya ke mulutku. Dan kurasakan buah dadaku diremas olehnya. Aku benar2 terkejut sekali dengan perlakuan seperti itu, aku mencoba mendorongnya, tapi tubuhnya sudah menindih tubuhku. Aku menendang dan Tina melepaskan pelukannya. Aku berusaha membetulkan letak buah dadaku yang tadi sampai keluar dari BH. Tina memandangku dengan mata yang redup.

“Sori Rin…..sejak kenal denganmu aku merasa kamu sangat merangsang sekali” Aku terdiam sambil menahan amarah.
“Kok kamu gitu sih? Kan kamu sudah punya suami??? Teganya kamu….” Sergahku sambil memelototinya. Tina memandangku dengan pandangan yang makin redup.
“Aku lebih bernafsu dengan wanita sepertimu, lagi pula suamiku tidak pernah bisa memuaskanku, belum apa2 sudah loyo sehingga selama perkawinan aku belum pernah merasakan kepuasan”
“Tapi dengan modal kecantikanmu kan kamu bisa cari laki2 lain utk memuaskanmu!”
“Aku tidak merasakan kenikmatan seperti kalau dengan wanita, aku ingin kamu juga mencoba merasakannya Rin” Jawab Tina sambil mendekatiku. Aku beringsut mundur kekepala ranjang.
“Tapi aku tidak pernah lesbian begitu” Hatiku berdebar2 memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi bila Tina menyergapku seperti tadi.
“Jangan takut Rin, aku tidak akan memaksamu, cuma aku ingin kamu mengijinkanku menciummu sekali saja, tolonglah…..” Hatiku makin tak keruan, sudah lama sekali aku tidak pernah dijamah oleh laki2 apalagi perempuan. Mendengar kata cium saja, aku sudah merasa tidak keruan. Lagi pula apa salahnya dicium Tina, apalagi mulutnya tidak bau. Aku tahu hati kecilku bersikap pasrah.
“Baiklah…..tapi sekali saja, dan jangan macam2 ya” Jawabku. Tina lalu mendekatiku lalu tangannya merangkul leherku, lalu bibirnya mencium mulutku dengan lembut, perasaanku tak keruan merasakan ciuman itu, aku memberanikan diri membalas ciumanya. Lalu kurasakan lidah Tina menjalar masuk kedalam mulutku mencari2 lidahku. Yang kurasakan kemudian adalah perasaan aneh dan gamang yang tidak dapat dilukiskan. Kurasakan hembusan napas Tina yang panas dipipiku dan lumatan mulutnya yang begitu merangsang birahi.

Hampir 3 menit kami berciuman dan aku tahu kemaluanku sudah basah karena nafsu. Sekarang aku benar2 pasrah waktu Tina menjilati leherku dengan lembut, tangannya melepaskan tali daster dipundakku, lalu dengan lembut buah dadaku yang masih tertuutp bh diremas2.
“Tiin…..jangan ah….malu Tin” Aku berusaha mencegah setengah hati. Dan Tina tahu aku tidak benar2 ingin menghentikan aktivitasnya.Aku merasakan tangan kirinya masuk kedalam celana dalamku, dan jari2nya memainkan klitorisku, kadang2 dicubit2 kecil, benar2 sensasi yang hebat sekali. Tanpa kusadari aku juga sedang meremas2 pantat Tina. Tubuhnya menindih tubuhku dan kurasakan buah dadanya yang berukuran sedang menekan buah dadaku yang memang dari dulu tergolong besar. Tiba2 aku baru sadar Tina sudah setengah telanjang, cuma memakai cd saja, sedangkan aku benar2 bugil total. Tubuh Tina berbau harum, entah parfum apa yang dipakainya, tapi wangi tubuhnya menambah getaran berahiku. Tanganku menjalar melepaskan celana dalamnya, lalu kulihat sekilas kemaluannya berkilat tanpa sehelai bulu, rupanya bulunya dicukur rutin. Jari2ku masuk kedalam lubang kemaluannya lalu kutusuk2 dengan lembut. Tina merintih keenakan, tangannya makin dalam beroperasi dilubang kemaluanku. Aku juga merintih keenakan. Aku tidak tahu ternyata wanita dengan wanita dapat saling memuaskan dalam urusan sex.

Sekarang Tina sedang menghisap puting buah dadaku, sementara tangannya yang lain terus bermain di klitorisku. Aku merasakan Tina mulai menciumi perutku, lalu memainkan lidahnya di pusarku, aku kegelian, tak lama kemudian lidahnya sudah menjilati kemaluanku.
“Tin jangan disitu ah……kan jorok” Bisikku sambil berusaha mendorong kepalanya. Tapi Tina malah makin merenggangkan pahaku dan klitorisku dhisap2 olehnya, kadang2 lidahnya masuk keluar dalam lubang kemaluanku. Aku sudah tak dapat berpikir sehat lagi, yang kurasakan cuma kenikmatan yang tiada taranya. Tahu2 didepan wajahku sudah ada kemaluan Tina, kedua lututnya ada dikiri kanan kepalaku. Tina tidak menurunkan pinggulnya, jadi aku dapat dengan jelas melihat kemaluanya yang botak. Bibir kemaluannya berwarna merah kehitaman dan kulihat klitorisnya cukup besar menonjol bertengger diatas bibir kemaluannya. Aku menyibak bibir kemaluan Tina, dan kulihat kemaluannya basah sekali oleh lendir yang bening, aku lalu menusuk2 kemaluan itu dengan telunjuk, jari tengah dan jari manisku, kadang2 dengan kelingking juga. Lubang kemaluan Tina sudah agak kendur, mungkin punyaku juga sama. Aku ragu2 mejilat kemaluannya, soalnya aku belum pernah menjilat kemaluan sesama wanita. Tina terus mengeluar masukkan lidahnya dilubang kemaluanku, aku sudah tak tahan lagi.

“Tin….aku hendak keluarrrr…..” Tubuhku bergetar hebat, kurasakan lidah Tina masuk makin dalam kedalam kemaluanku, dan aku merasakan orgasme yang hebat sekali. Sepertinya ini yang paling enak semenjak aku menikah. Tina masih terus menjilati lendirku, aku juga tak perduli lagi, kuraih pinggul Tina lalu ketarik sampai wajahku terbenam disela2 pahanya. Tercium bau yang sama dengan bau kemaluanku. Kujilat2 klitorisnya lalu kumasukkan juga lidahku kedalam lubang kemaluannya, kurasakan lendir asin masuk kedalam mulutku. Aku tidak perduli lagi. Lalu kurasakan ada yang geli di lubang pantatku.

“Aduh Tin jangan disitu dong…..jorok kan?” Kurasakan lubang pantatku berkerut ketika lidah Tina berusaha menerobos masuk. Kemudian aku tak perduli juga, karena aku merasakan kenikmatan yang sama, aku juga melakukan hal yang sama dengan Tina. Kutusuk2 lubang pantatnya dengan lidahku, lubang yang kehitam2an itu jadi becek oleh air liurku dan lendir kemaluannya. Tiba2 Tina seperti tersentak lalu beku…….mulutnya mengeluarkan jeritan kecil, lalu kurasakan ia menekan lubang memeknya makin dalam kewajahku dan menggoyang2kan pinggulnya sehingga hampir seluruh wajahku tersapu oleh kemaluannya.

“Aduuuuh riiin…..enak sekaliii….” Ia memeluk erat2 pinggulku, klitorisku digigit2 kecil olehnya. Tak lama kemudian tubuhnya melemas lalu betul2 lemas sehingga aku tidak bisa bernapas karena tekanan kemaluannya diwajahku. Keringatnya bergulir turun masuk kedalam mulutku. Aku juga benar2 puas sekali.

Kemudian Tina bangun lalu mencium mulutku, kami kembali bergelut sambil mendesah2. Tina menempelkan kemaluannya pada kemaluanku, lalu menggosok2nya. Kira2 15 menit kami berciuman sambil berpelukan erat sampai aku tak merasa kalau aku tertidur.

Entah berapa lama aku tertidur, samar2 aku seperti mendengar suara Remi. Aku membuka mataku dan……astaga!!! Kulihat Tina sedang bergelut dengan Remi dilantai kamarku yang beralaskan karpet biru. Kulihat Tina sedang menjilat2 kemaluan Remi yang sudah keluar dan berwarna merah sekali. Mulut Tina berlumuran cairan yang keluar terus dari kemaluan anjing itu, dan anjing itu bersuara kecil sepertinya keenakan kemaluannya dihisap oleh Tina. Kemaluan Remi cukup besar, mungkin karena anjing herder dan cairan seperti lendir itu terus keluar menetes netes, dan Tina mencerucup cairan itu……

“Tin!! Gila kamu……kok sama Remi sih???” Aku memberondong Tina. Tapi lagi2 Tina tidak menjawab, yang kulihat kemudian ia berusaha menuntun kemaluan Remi memasuki kemaluannya. Dan Kudengar rintihan Tina ketika kemaluan yang cukup besar itu masuk kedalam lubang kemaluannya. Kulihat Remi menggerakkan bokongnya dengan amat cepat, lalu tidak berapa lama kemudian terdengar Remi mendeking halus lalu dari sela2 kemaluan Tina kulihat cairan merembes keluar banyak sekali, seperti air kencing tapi juga seperti lendir yang encer. Kulihat Tina mengerang2 lalu tangannya meraih kemaluan Remi dan dimasuk keluarkan sendiri olehnya. Melihat pemadangan itu tubuhku kembali bergidik, ada perasaan aneh merayap kedalam jiwaku. Aku tahu bahwa aku terangsang oleh aksi Tina. Tanpa sadar aku juga turun kelantai dan kepalaku mengarah menuju selangkangan Tina. Kulihat dari dekat kemaluan Remi masih digerak2an Tina keluar masuk dalam kemaluannya, dan dari kemaluan hewan itu masih terus menetes lendir, sedangkan kemaluan Tina kulihat sudah merah sekali, juga kulihat lendir Remi memenuhi kemaluan Tina.

“Rin….dijilat Rin….tolonglah Rin” Rintihan Tina makin merangsang nafsuku. Seperti ada yang mendorong, kepalaku segera menyusup keselangkangan Tina. Pelan2 kujilat kemaluan Tina yang sangat banjir itu. Aku merasa cairan kemaluan Remi terasa asin sekali, tapi baunya tidak menyengat. Seperti kesetanan aku menghirup dan mencelucupi kemaluan Tina. Persis seperti Remi jika sedang minum air. Lidahku menguak bibir kemaluan Tina, lalu masuk menjelajahi seluruh dinding vaginanya.

“Riiiiiiinnnnnn……….” Tina merengek hebat,pinggulnya terangkat menekan mulutku. Aku tak perduli lagi. Kemudian aku berpindah menghisap kemaluan Remi, kumasukkan seluruh kemaluannya kedalam mulutku. Penis Remi terasa panas dalam mulutku dan aku mencium bau hewan itu, tapi pikiranku sudah gelap yang ada hanya nafsu yang selama ini terkubur dalam2 dan kini meledak tak terbendung.Aku tahu aku bakalan menyesali perbuatanku setelah ini.

Aku terus menjilat dan mengulum penis Remi. Anjing itu mendeking2 pelan, kadang2 berusaha menghindar, tapi Tina memegang kedua kakinya dengan erat. Tak lama kemudian dari penis Remi menyembur cairan panas kedalam mulutku. Kumasukkan seluruh penis Remi lalu kusedot2, anjing itu mencoba memberontak, entah kenikmatan atau kegelian. Tina memajukan wajahnya lalu kami saling berciuman, kukeluarkan sebagian cairan Remi kedalam mulutnya. Wajah kami sudah basah oleh cairan encer itu.

Sekarang aku berbaring dibawah Remi, kemudian Tina mulai menghisap kemaluan Remi agar nafsu Remi kembali. Setelah itu Tina mencoba memasukkan penis Remi kedalam vaginaku. Ternyata penis itu kebesaran untuk lubang vaginaku. Mungkin lubang vaginaku menciut sepeninggal suamiku yang meninggal 4 tahun yang lalu. Kepala penis Remi yang meruncing itu masuk sedikit, tiba2 Remi mendorong keras sambil menusuk2 cepat sekali. Aku merasa agak perih, tapi kemudian kurasakan kenikmatan yang tak terbayangkan, lubang vaginaku seperti ditusuk oleh mesin penggerak yang amat cepat. Aku tak tahu bagaimana melukiskannya sampai aku mencapai orgasme yang sangat hebat. Seluruh rambut ditubuhku seperti berdiri tegak membuatku merinding. Tak lama kemudian aku merasakan cairan panas menyemprot dalam vaginaku, aku berusaha mengeluarkan penis Remi, tapi hewan itu seperti tak perduli, aku pasrah membiarkan seluruh cairannya keluar dalam vaginaku. Kemudian Tina menyuruhku jongkok diatas wajahnya. Tina melumat vaginaku dengan penuh nafsu, kulihat dari vaginaku mengalir cairan Remi yang tersisa, mengalir seperti air kencing masuk dalam mulut Tina. Akupun tidak mau ketinggalan, kulumat juga vagina Tina yang sekarang sudah agak lembab dan lengket.

Hari itu aku dan Tina bersetubuh 3 kali, pagi, siang dan malam hari. Aku tak mengerti lagi apakah aku ini normal atau tidak. Yang pasti kebutuhan yang selama ini tak tersalurkan, kini menemukan muaranya. Aku sangat menyesal dengan perbuatanku yang mungkin bertentangan dengan agama yang kuanut, tapi aku terus menerus melakukannya dengan Tina. Seolah-olah kami sudah tak terpisahkan. Tina selalu mempunyai ide-ide yang baru dalam setiap permainan kami. Aku juga tak tahu apakah aku harus berterima kasih padanya atau mengutuknya. Dan belakangan aku Tina mengatakan bahwa hampir semua ibu-ibu yang kukenal pernah diajak berlesbi olehnya.


Teman lesbi dari chating


Hai, namaku Bunga (samaran), umur 21 tahun, aku masih kuliah di salah satu PTN terkenal di Jogja. Terus terang saja aku adalah seorang gadis yang menyukai sesama jenis dan aku menyadarinya semenjak SMP kelas 3. Dan aku mulai bereksperimen dengan dunia lesbianku semenjak kelas 1 SMA. Ini adalah sepenggal kisah pengalaman pribadiku yang benar-benar terjadi. Semua nama orang dan tempat dalam cerita ini sengaja disamarkan untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan.Kisah ini diawali dengan kegemaranku akan chatting pakai IRC dari dua tahun lalu. Dengan nick name **** (edited), aku iseng menjelajahi dunia cyber. Akhirnya kutemukan chat room/channel yang cocok denganku yaitu #lesbi, #lesbian, #lesbians, #lezbo, dan masih banyak lagi, bahkan aku sempat menjadi salah satu OP di sebuah channel lesbian. Aku pun mulai berkenalan dengan beberapa orang yang kebanyakan dari luar negeri dan yang dari negeri sendiri. Bisa di katakan 50% orang yang online di channel tersebut adalah laki-laki, hal itu yang membuatku menjadi agak jengkel, mereka semua penipu. Sampai akhirnya aku berkenalan dengan seorang wanita.

(***-devil) Hii.. boleh kenal nggak yah?
(****_girl) Boleh.. boleh.. asl-nya donk.
(***-devil) Aku 30 f jkt.. kamu?
(****_girl) Gue 20 f Jogja city.. hi hi hi, eh udah agak tua hihihihi.
(***-devil) Yee.. emang nggak boleh, eh real name dong biar enak manggilnya.
(****_girl) Gue Bunga.
(***-devil) Met kenal Bunga.. kenalkan aku.. Lina.

Obrolan kami pun terus berlangsung, mulai dari hal-hal yang ringan hingga hal-hal yang berbau seks. Hampir setiap hari kami bertemu di channel, kami pun mulai bertukar alamat, nomor telepon, dan foto beserta biodata melalui e-mail maupun langsung saat online di channel. Mbak Lina adalah wanita karier yang termasuk dalam golongan yuppies (young urban profesional), dia belum berkeluarga dan hidup sendiri di tengah kerasnya kehidupan ibukota. Hingga pada suatu hari telepon di kosku berdering.

“Halo.. bisa bicara dengan Dik Bunga?”
Aku pun menjawab, “Ya, saya sendiri.. mm ini dari siapa yah?”
“Ini aku Dik.. Mbak Lina!”
Aku tersentak, ya ampun suaranya begitu halus dan lembut, suaranya mampu menggetarkan hatiku.
“Ya ampun Mbak Lina.. bikin kaget saja, gimana kabarnya Mbak?”
“Baik-baik aja, eh Mbak bisa minta tolong nggak?”
“Ada apa Mbak?”
“Mbak sekarang ada di Jogja nih.. bisa nggak kamu jemput Mbak di stasiun, sekalian nyari hotel buat Mbak bisa nggak?”
“Oh my god.. kenapa nggak bilang-bilang kalau mau ke Jogja Mbak, iya deh Mbak aku jemput sekarang, Mbak tunggu saja di sana ok?”
“OK.. makasih yah.”

Dengan segera sore itu juga aku menjemputnya di stasiun, tak lupa kubawa fotonya agar aku lebih mudah mengenali dirinya. Sesampainya di stasiun, aku langsung bisa mengenalinya, wanita anggun dengan setelan blazer khas wanita karier. Aku pun menyapanya, “Mbak Lina..!” Dia pun berpaling kepadaku, dan tampaknya dia terperanjat, “Ya ampun.. Bunga.. kamu nampak jauh lebih cantik dibandingkan photomu.” katanya, sembari tanpa malu-malu mengecup pipiku. Aku pun membalasnya dengan agak canggung. “Udah Mbak.. ngobrolnya sambil jalan aja, udah sore nih, entar kemaleman lagi.. yuk!” kataku sambil kugandeng tangannya. Selama perjalanan Mbak Lina bercerita bahwa dia ambil cuti seminggu untuk liburan, dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke Jogja, dia ingin mengunjungi Borobudur, Prambanan, pantai Parang Tritis serta daerah wisata lain di sekitar Jogja. Aku mencarikannya hotel yang dekat dengan kosku di sekitar kampus.

Kami pun tiba di hotel T, setelah check in kami berdua segera menuju kamar, tampaknya Mbak Lina sangat lelah akibat perjalanannya.
“Mbak.. kalau Mbak lelah, jalan-jalan ke Malioboronya besok aja Mbak, mendingan Mbak istirahat aja sekarang, OK?” kataku sembari beranjak keluar ruangan.
“Lho Bunga! kamu mau kemana?” tanya dia.
“Mmm.. anu Mbak, Bunga pulang ke kos dulu.. mau mandi, kan udah sore.”
“Kamu ini gimana, mandi di sini kan bisa, habis mandi nanti kita keluar.. anterin Mbak jalan-jalan, gimana mau khan? please!” katanya sambil memohon kepadaku, aku pun mengangguk.

Mbak Lina mulai melepas bajunya satu demi satu hingga tinggal BH dan celana dalamnya saja. “Bunga.. kamu ini gimana, katanya mau mandi, ayo buka bajunya!” katanya sembari melucuti pakaianku, aku hanya bisa pasrah saja dengan tingkah lakunya, dia pun juga menyisakan BH dan celana dalamku saja, meski tubuhku (175 cm) lebih besar dibanding dia (kurang lebih 165 cm) aku tidak banyak berkutik. Aku bisa melihat lekuk tubuhnya yang indah dengan jelas, dadanya seukuran denganku 36B, dan ia memiliki belahan pantat yang sangat indah. “Hei.. disuruh mandi kok malah bengong, ayo..!” dia membimbingku ke kamar mandi, kemudian segera menutup pintu kamar mandi begitu kami berdua berada di dalam. “Mmm.. mandinya bareng aja yah, biar lebih cepet, “katanya sambil tersenyum, sekarang dia mulai melepas BH dan celana dalamnya dan tanpa canggung melepas punyaku juga. Terpampang jelas di depanku wanita cantik dan seksi dengan payudara yang padat dan menjulang ke atas, aku bisa membaui aroma kewanitaanya dari kemaluannya, membuat kemaluanku semakin basah. Tanpa pikir panjang aku langsung menubruk dan memeluk tubuhnya, aku memepet tubuhnya ke dinding sehingga dia tidak dapat berkutik lagi, aku bisa merasakan sensasi yang menakjubkan ketika payudaranya bergesekan dengan payudaraku, aku bisa merasakan nafasnya mulai tidak beraturan. Mbak Lina memejamkan matanya, tampaknya dia pasrah dalam pelukanku.

Tanganku pun mulai bergerilya, menyusuri tubuh indahnya, kulumat bibir indahnya dengan bibirku, dia membalas pagutan demi pagutan, dia merangkulkan tangannya ke leherku, napasnya semakin memburu dan aroma khas kewanitaannya semakin keras menusuk hidungku. Aku pun merasa kemaluanku semakin basah, payudaraku pun semakin menegang. Pelan-pelan tanganku mulai merambat menuju kemaluannya dan.. ya ampun.. kemaluannya sudah sangat basah, kuraba selangkangannya dengan lembut, dan ia sempat tersentak ketika jari-jariku meraba klitorisnya, ketika jariku ingin kumasukkan ke dalam liang kemaluannya dia mencegahku dengan wajah memelas, dia menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin aku melakukannya, mungkin dia masih perawan pikirku. Dia pun berkata, “Sayang.. dielus-elus saja yah.. please,” katanya sambil memelas. Aku pun hanya mengangguk. Kulumat lagi bibir indahnya sambil mengusap-usap kemaluannya, dia pun juga mulai mengusap kemaluanku. Beberapa saat kemudian aku merasakan sensasi enak yang menjalari tubuhku, hangat dan mulai memusat ke arah kemaluanku.

“Mbak.. ahh.. ah.. oughh.. terus.. jangan berhentii.. uuhh.. udah mau keluar nih.”
“Bunggaa.. aah.. Mbak juga udah mau keluar nih.. ouughh..”
Sesaat kemudian tubuhku mengejang-ngejang dan aku merasakan cairan hangat mengalir deras dari kemaluanku, begitu juga dengan Mbak Lina dia memelukku dengan erat ketika dia mencapai orgasme, dia melumat bibirku agar tidak berteriak, setelah agak mereda, dia mulai melepaskan pelukannya tapi kemudian ambruk dalam pelukanku, tampaknya dia sangat lelah kemudian aku pun memandikannya dengan lembut dan dia pun juga melakukan sebaliknya kepadaku. Dia tampak pasrah sekali kepadaku, sampai-sampai dia tidak mau melepaskan pelukannya dariku. Kukeringkan badannya dengan handuk sambil sesekali mengelus payudara ataupun kemaluannya dan dia tidak memberikan perlawanan yang berarti sama sekali.

Kurebahkan tubuhnya di atas ranjang, kemudian kuciumi sekujur tubuhnya yang masih bau sabun, kulitnya putih, mulus , halus, lembut, tanpa cacat dan aku suka itu. Mbak Lina sudah tampak pasrah sekali dan dia tidak bisa melakukan perlawanan sama sekali, dan kupikir ini merupakan suatu kesempatan bagiku. Kuikatkan kedua tangannya ke ranjang dengan scarf miliknya, dan dia masih tidak melawan, aku tidak habis pikir, pasti dia menikmatinya, gumamku dalam hati. Kutindih tubuhnya dengan tubuhku, kuciumi bibirnya dengan penuh nafsu. Kembali sensasi menakjubkan itu kurasakan saat tubuhku menghimpit tubuhnya, nafasku menjadi semakin tidak karuan, kedua kemaluan kami saling bergesekan. Oh, aku sudah tidak tahan lagi, langsung saja kuremas kedua payudaranya sambil sesekali kuhisap, berkali-kali ia menjerit lirih. “Ohh.. mm.. uuouugh.. Bunga.. uuhh..”jeritnya tertahan. Desahannya itu semakin membuatku kehilangan akal, tanpa pikir panjang kumasukkan kedua jariku ke dalam liang kemaluannya, dan.. “Bles..” meskipun liang kemaluannya masih rapat, aku tahu kalau dia sudah tidak perawan, sempat terlintas di pikiranku kenapa dia melarangku melakukannya tadi. Sesaat dia ingin mengatakan sesuatu tapi dengan cepat aku langsung membungkam mulutnya dengan tanganku yang lain, dia pun mulai meronta.

Kembali kutindih tubuhnya agar dia tidak bisa berkutik, sembari jariku masih mengobok-obok kemaluannya. Kedua jariku berusaha mencari titik G-spotnya, sampai akhirnya aku menemukannya, kemudian aku tekan kedua jariku. Beberapa saat kemudian Mbak Lina mulai menggeliat-geliat, kedua kakinya dilingkarkannya ke pinggangku, tubuhnya mulai mengejang, bahkan pantatnya sampai terangkat, mulutnya masih kubungkam dengan tanganku. Tubuh Mbak Lina mengejang dengan hebat sampai-sampai Mbak Lina memejamkan matanya. Setelah agak mereda, aku segera lepaskan tanganku dari mulutnya. Saat itu aku baru menyadari kalau Mbak Lina menangis, aku pun melepaskan ikatan tangannya dan.. “Plakk.. plakk..” Mbak Lina langsung menampar wajahku dua kali. Karena aku merasa tidak melakukan suatu kesalahan, aku pun mulai menangis. Belum pernah aku ditampar oleh seorang pun seumur hidupku.

“Hiks.. hiks.. Bunga.. kamu jahat sekali” katanya sambil sesenggukan.
“Mbak.. apa salahku..” kataku sembari berusaha menghapus air mataku yang bertambah deras.
“Kamu.. kamu kan harusnya sudah tahu itu, Mbak kan sudah bilang.. jangan kamu lakukan itu tapi tetap saja kamu lakukan itu. Kamu tuh nggak ngerti perasaan Mbak.. hiks,” katanya sambil menahan tangis.
“Mbak.. Bunga minta maaf, waktu itu Bunga kalap.. jadi Bunga kehilangan kontrol.. maafkan aku ya Mbak!” aku mengiba kepadanya.

Mbak Lina tidak memperdulikan ucapanku, dia membalikkan tubuhnya dan membenamkan wajahnya ke bantal sambil menangis tersedu-sedu. Aku menjadi serba salah. Aku pun segera berpakaian, kurasa Mbak Lina sekarang lagi ingin menyendiri, jadi pelan-pelan kutinggalkan kamarnya. Aku keluar dari hotel dengan berat hati karena merasa sangat bersalah. Dua jam kemudian aku kembali ke kamarnya, ternyata dia tak mengunci pintu kamarnya, aku pun masuk dengan mengendap-endap, aku takut dia masih marah kepadaku. Aku melihatnya masih teronggok di atas ranjang, tampaknya dia kelelahan sampai tertidur, kasihan aku melihatnya. Aku pun mendekat dan berusaha menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut. Tapi kemudian ia terbangun, mungkin ia terbangun olehku. Dia membetulkan selimutnya sambil menatapku dalam-dalam, aku tak berani menatapnya, aku hanya bisa tertunduk malu.
“Bunga sekarang jam berapa?” katanya kepadaku.
“Jam sembilan Mbak,” jawabku takut-takut, sambil terus menunduk.
“Ya ampun.. Mbak belum makan malam nih.. temenin Mbak makan yuk!” kata dia.
Aku tidak menjawab, aku hanya mengangguk pelan. Dia pun segera berdandan dan berganti pakaian. Lalu dia menggandeng tanganku keluar kamar, dia menggenggam tanganku dengan erat, entah apa yang dipikirkannya.

Kami pun akhirnya makan di sebuah rumah makan dekat hotel yang kebetulan buka sampai malam. Selama makan pun kami saling berdiam diri, tidak mengucapkan sepatah katapun. Sepulang dari rumah makan itu, Mbak Lina kembali menggandeng tanganku dengan erat, seolah tidak ingin melepaskanku. Kami kembali menuju hotel dan segera menuju kamar. Begitu kami masuk kamar, Mbak Lina langsung mendudukkanku di bibir ranjang, aku sudah siap jika ia ingin memarahiku lagi, aku menundukkan kepalaku, tidak berani menatap wajahnya. Tapi kemudian tangannya yang halus dan lembut mendongakkan kepalaku, dia menatapku dalam-dalam. Karena merasa takut, tanpa sadar air mataku mulai mengalir.

“Lho Bunga.. kenapa kamu menangis?” tanya dia sambil menghapus air mataku.
“Mbak.. Bunga minta maaf, Bunga ngaku salah, maafin aku ya Mbak..!” kataku terisak.
Mbak Lina bersimpuh di hadapanku, diambilnya tanganku, dia genggam erat tanganku.
“Bunga.. harusnya Mbak yang minta maaf sama kamu, Mbak udah ngasarin kamu.. udah sekarang kamu jangan nangis lagi yah.. sayang,” kata dia sambil mengecup keningku.
“Harusnya Mbak memberitahu kamu sejak awal tentang ini.. mm.. begini. Sebenarnya Mbak punya komitmen akan sesuatu..” katanya memecah suasana.
Dia berkata, “Mbak pernah berjanji pada diri sendiri, barang siapa yang pertama kali melakukan seperti apa yang kamu lakukan tadi pada Mbak, maka Mbak akan setia bersama dia sebagai seorang kekasih.”
“Tapi.. tapi Mbak kan sudah nggak perawan lagi..” kataku.
“Iya betul.. tapi aku kehilangan kegadisanku oleh tanganku sendiri, perlu kamu ketahui kamulah orang pertama yang melakukan itu padaku, meski dulu aku punya pacar tapi tidak ada yang seberani kamu dan senekat kamu sehingga mereka tidak pernah berani macam-macam sama Mbak.. kamu mengerti sekarang sayang,” kata dia.

Dia kembali berkata, “Bunga.. maukah kamu menjadi kekasihku?” dia memohon sambil berlutut di hadapanku. Sekali lagi aku tidak ingin membuat kesalahan, aku tidak ingin mengecewakannya lagi, aku pun mengangguk pelan. Mbak Lina pun bangkit, kemudian dia duduk di pangkuanku, lalu dia melepas t-shirt yang dikenakannya, terpampanglah dua gundukan indah di hadapanku, terbalut BH putih berenda. Kami berpandangan, Mbak Lina tersenyum manja, kemudian dia mengecup bibirku, aku pun tersenyum. Kupeluk tubuh indahnya kemudian kubaringkan dia, kemudian.. “Bunga! Jangan ditindih ya.. please.. habis kamu berat sih,” katanya manja. Aku pun cuma mengangguk, aku lalu berbaring di sampingnya, kubelai rambutnya dengan lembut, kukecup keningnya, bibirnya, kemudian lidahku mulai menelusuri tubuhnya, kucium dadanya, pagutan demi pagutan membuatnya tampak kegelian. Kulepaskan BH-nya yang dari tadi masih menutupi gunung kembarnya, puting susunya tegak berdiri, tampaknya dia sudah sangat terangsang. Kujilati puting susunya satu persatu. “Oooh..!” Mbak Lina mendesah kegelian, aku pun mulai menghisap puting susunya yang sebelah kanan sedang yang kiri kupilin-pilin putingnya dengan kedua jariku. Kali ini Mbak Lina mengeluarkan desahan-desahan yang menggairahkanku, dia memejamkan mata sambil menggigit bibirnya, berusaha menahan gairah yang begitu menggelora.

Setelah cukup puas, kubuka t-shirt beserta BH-ku, kupeluk tubuhnya kemudian kubalikkan tubuhnya sehingga kini ia menindihku. Dia duduk di atas tubuhku. Kini tangannya mulai usil memilin-milin kedua puting susuku sambil tersenyum manja, kulingkarkan tanganku ke pinggangnya sehingga tubuhnya semakin dekat denganku. Kuraih punggungnya sehingga ia kembali menindihku, kedua kaki kami saling membelit, tangannya masih meremas-remas kedua payudaraku, dia menatapku dalam-dalam, aku tahu apa maksudnya. Bibir kami pun bertemu, saling melumat, lidah kami saling berpilin, dada kami saling bergesekan, aku pun mulai merasakan kehangatan bunga-bunga cinta di antara kami.

Mbak Lina sudah tidak sabar lagi, ia mulai melepas celana jeans beserta celana dalam yang dikenakannya, dia juga melepas pakaian yang masih menempel di tubuhku. Kini kami berdua sama-sama telanjang bulat, kami mulai bergumul di atas ranjang, berguling-guling ke sana kemari. Aroma kewanitaan dari kemaluan kami mulai terasa keras menusuk hidung. Kemaluan kami berdua benar-benar basah, terbukti ketika kami saling menggosokkan kemaluan kami sampai terdengar bunyi berdecak-decak pertanda kemaluan kami sangat becek. Bibirku terus melumat bibirnya, nafasnya mulai tidak teratur, kumasukkan kedua jariku ke kemaluannya, dia pun tak mau kalah dia juga memasukkan kedua jarinya ke dalam liang kemaluanku, aku mulai mengobok-obok kemaluannya sambil terus memeluknya dengan erat. Tidak.. sekarang tidak hanya kedua jariku, kini kumasukkan tiga jari ke dalam kemaluannya dan dia pun semakin menggila, tangannya yang satu lagi meremas pantatku dengan kuat, tubuhnya semakin mengejang-ngejang.
“Ooohh.. oughh.. aahh.. Bungaa.. mau keluar nihh.. oohh..” dia mendesah dengan keras.

Dan aku pun bisa merasakan cairan hangat keluar dari kemaluannya, aroma kewanitaan pun semakin terasa, membuatku semakin menggila. Tak lama kemudian aku pun mencapai orgasme, tubuhku mengejang dengan hebat, seolah-olah ada yang meledak dalam tubuhku. Kami berdua terkulai lemas dalam pelukan, aku masih sempat melihat dia tersenyum kepadaku, kemudian dia memejamkan matanya dan tidur dalam pelukanku. Keesokan harinya aku terbangun, aku mendapati dirinya masih meringkuk dalam pelukanku, aku sibakkan rambut yang menutupi wajahnya, wajahnya tampak berseri-seri, aku tidak tega membangunkannya, dia begitu cantik dan anggun. Aku pun terus membelainya sampai kemudian ia terbangun. Kukecup bibirnya dengan lembut. “Selamat pagi..” kataku lirih.


lesbi malu-malu?

Posted: minona on Aug 24 | cerita sesama wanita | 21,836 views

Aku seorang cewe, panggil aja aku mimi. usiaku 30 mau masuk 31.Pendidikan S1 ekonomi, tampang manis, udah lumayan cukup matang. tapi sampai sekarang aku masih lajang. Gak tau lah, untuk masalah yang satu ini kenapa susah ya..padahal aku pengen banget punya suami dan anak-anak seperti perempuan normal pada umumnya.
Aku juga pernah pacaran beberapa kali dan terlama hampir 6 tahun, dan itu putus karena aku ngerasa lelaki itu kurang taft dibanding aku. Selanjutnya aku gonta-ganti kenalan dengan beberapa pria, tapi tetap aja blum ada yang pas…Tapi jangan heran, selama aku pacaran cuma baru ciuman dengan satu orang dan itu juga putus karena aku gak mau lagi ciuman dengan alasan takut dosa. tapi itu fakta lho, aku emang takut banget. Dan setelah itu aku pacaran sama sekali gak pernah macem2 kayak orang pacaran, wong pegangan tangan aja aku enggak mau kok..Nah itu dia ya, deket2 sama cowo aku takut dosa,tapi kalo boleh jujur aku ini emang tegangan tinggi banget deh, dan itulah kenapa aku malah jadi horny kalo deket sama cewe??

Namun sekarang ceritanya jadi berbalik arah, gak berbalik drastis sih, aku masih berharap someday ada pria yang tepat tobe my destiny, entah kapan tapi aku masih tetap berusaha kok.. namun cerita yang akan aku paparkan menjadi keragaman karakter & sikap dalam perjalanan hidup ku. Yang aku rasakan saat ini, i’m little bit confused about my self. aku juga jadi gak kenal sama diri aku sendiri, tipikal seperti apa sebenarnya aku ini. orang baik-baik kah, orang jahat kah, normalkah, agamiskah, atau aku orang termunafik sedunia?? entah i can’t figured it out.

Ok, sebelum aku cerita tolong kalian janji dulu setelah membaca ceritaku akan langsung kasih pendapat,advise atau semacamnya mengenai apakah aku ini masih normal sebagai wanita, dan kalo aku aku emang lesbi apa faktor pendorong kenapa aku suka kepada beberapa sahabat perempuanku..
1. Apa aku ini memang terlahir untuk menjadi seorang lesbi?
2. Apa cuma karena haus akan belaian kasih dan dorongan kebutuhan biologis yang belum aku terima dari seorang lelaki?
3. Apa karena sebagai rasa kekecewaan karena ternyata Tuhan belum juga kasih aku lelaki sebagai pendamping?
4. Apa karena faktor lain?

Ini dimulai dari hobiku sejak SD yaitu MASTURBASI, entah gimana awalnya pokoknya aku ngerasa enjoy kalo udah menekan sisi vaginaku dengan jempol atau mengempit guling. Tapi sampe sekarang aku gak berani ngerubah gaya masturbasiku dengan yang aneh2 apalagi memasukkan sesuatu ke liang vagina,,ga mau ah,,itumah nanti aja yang asli punya suamiku kelak.hehe.
Dari kecil pun pengetahuan sex sudah aku dapatkan. mulai dari video&majalah bokep koleksi oom dan kakak (kebetulan kakak cowo smua), sampai pernah juga mergokin oom&tante lagi ML. Gimana gue gak jadi pinter tuh…@#%$#@

Kalo diurut dari awal, sepertinya setiap jenjang pendidikan dan karier aku selalu kena “cinlok” dengan sahabat-sahabatku, ya kalo aku inget2 mereka juga cantik2 sih..tapi pada dasarnya aku tipe setia,karena itu baik itu aku lagi pacaran sama cowo tetep aja tiap scene hanya satu sosok yang ada di hati pada saat itu.
aku coba urutkan ya..
1. Kristi. dia sepupuku yang seumur (saat itu masih SD). dia yang ngajarin aku pertama kali untuk mengempit menyilangkan paha kita masing2. Aku kerumah dia kalo pas liburan panjang. Tapi sekarang udah biasa2 sm dia kayak gak pernah ada kejadian.
2. Eva. Anak tetangga. Dia juga yang ngajakin aku berexperimen pertama kali. kita buka “CD” dan menggesek2an vagina dia dengan ku. tapi aku gak enjoy ah, gak ada yang masuk.. (ini juga waktu SD)
3. Kakak sepupu ku (kali ini cowo). Dia ngajakin aku ML untuk yang pertama kali (dan terakhir). Aku gak tau apa aku masih virgin atau gak, pasalnya kan dia udah sma waktu itu, dan anunya gede banget, kayaknya gak masuk deh wong aku masih kecil dan aku juga gak berdarah..
4. Yuli. Temen sebangku di SMP. tapi cuma sebatas suka, gak lebih.
5. Dini. Temen smp kelas 3. ini juga cuma sebatas suka aja.
6. Mala. sohib, tetangga deket rumah. beda SMA. Tapi aku sempet terobsesi banget sama ni anak, malahan sering jeles kalo dia deket sama cewe atau cowo. Fantasiku main sama dia. Pernah hampir ciuman untuk sekedar pengen tau, tapi gak jadi ah, merinding duluan..kita sering banget musuhan..dan masuk kuliah aku mulai menjauh dari dia, cape selalu jadi orang yang mengalah..
7. Indri. sohib kuliah. kita sohiban ber-8. tapi aku ngerasa deketnya sama dia. kita smua sering nginep kalo ada acara belajar bersama. Deket dengan dia sering bikin vaginaku basah, itu karena terkadang dia suka peluk aku, sering aku gigit dia, atau waktu pas tidur seranjang, pernah (gak tau dia sengaja atau cuma tidur) dia meluk aku, kakinya juga ke tubuh aku, tapi dia tidur. sumpah aku jadi gak bisa tidur gara2 itu, semaleman cuma ngliatin dia. Rasanya pengen banget balik peluk dia dan cium dia, tapi gak berani ah.. cuma pas bangun besok paginya ngerasa becek aja CD ku…aku juga sring mimpi basah sama dia. kayak waktu aku liburan 3bulan ke Amrik, aku mimpi ciuman hot sama dia, eeh pas pulang ke bandung kita ketemuan kejadiannya hampir mirip, cuma dia cium aku di kening waktu pamitan pulang.. sampai sekarang kita masih sohiban, tapi anehnya kalo janjian ngumpul2 ama semua pas cipika-cipiki sama yang lain dia cuma pipi sama pipi, kenapa sama aku dia pake bibir ya…? tapi dia udah merid dan baru punya beby. Udah gak ada rassa lagi sama dia.
8. Ning. Rekan kerjaku di perusahaan textil. Cewe hitam manis rambutnya panjang, ganjen banget. Dia udah nikah tapi blum punya anak. sama dia aku betah banget ngomong ngalor ngidul (maklum kita hobi nyablak) walaupun kita baru ketemu di kantor tapi tetep aja pas sampe rumah aku telpon lagi..Walaupun dia sekarang sudah cerai dengan suaminya, tapi aku males sering-sering gaul dengan dia lagi, takut berlanjut ah..
9. Ifa. rekan kerja di perusahaan di depok. umurnya 36tahun tapi saat itu masih single. Aku masuk perusahaan ini untuk gantiin posisi dia karena dia mau kluar. Untuk 3 bulan dia masih training aku. kita jadi roomate selama 2 bulan. mungkin karena sama2 “butuh” kita sering sentuh2an. Awalnya aku juga kaget suatu malam tiba2 aku kebangun dan mendapati tangan dia mau sentuh wajah ku.. tapi kita sama2 dewasa, kita gak perlu saling ngomong dan ngebuka aib masing2 (kayak lagunya ratu “aku suka kamu suka sudah jangan bilang siapa2). Tapi kita masih dalam batas pegangan tangan dan belai aja kok..
10. Lia. Rekan kerja di depok juga. dia junior ku.betawi abis, nyablak banget.orangnya imut, cantik dan lucu. sama dia aku ketawa mulu, sampe sekarang pun kalo kangen ketawa aku telpon dia. dia mau merid tahun ini.Sering aku bego2in dan kerjain. lucu banget dah dia mah.. Tapi dia resign duluan sebelum aku (curang dia), dia gak mau kalo gak ada aku di kantor, karena bos kita gualak banget. Kalau gak ada bos, aku males banget kerja (padahal aku kepala staff). aku ke ruangan dia aja, ngejailin dia, nglitikin, ngejijiin, gigit, nyoret2 tangan atau kaki dia pake pulpen..macem2 deh.

kesemua demenanku itu, gak ada seorang pun yang menyadari dan tau kalo aku suka (ato mungkin mereka menyadari & punya perasaan yang sama kali yee) kecuali ifa (kita pura2 gak tau aja deh ya..) Tapi perasaan sama mereka udah biasa2 aja. gak ada bekas..

11.Ciyu. Ini yang terakhir. Sampai saat ini aku tetep gak bisa lupain dia, walaupun dia begitu rupa menghindar, ganti nomor HP, pindah kontrakan, hingga tak ada bekas jejaknya, aku tetap penasaran sama dia, aku gak percaya kalo dia gak pernah ada “rasa” sama aku, aku gak bisa menghapus kenangan bersamanya, dia selalu dalam hayal jorokku..

Namanya “rahasia” namun panggilan sayangku Ciyu, usianya terpaut 2tahun di bawahku,tapi karena perawakannya yang lebih besar dari aku, malah aku yang kayak adiknya. dia sudah bersuami dan punya satu orang putra.
Saat itu aku masih bekerja di sebuah perusahaan asing di kota Depok. aku sendiri ngontrak rumah petakan dan kontrakan dia beda 2 gang.Dia sering ke warung sebelah kontrakanku. Yah sering ngobrol gitu deh kalo ketemu, kebetulan aku juga suka anak kecil, dan anaknya sering aku ajak masuk ke rumah ternyata anaknya senang main denganku, ya kita jadi akrab deh.

Awalnya sih no filling sama sekali, kita biasa-biasa aja, ketemu juga jarang, lagian aku sibuk kerja jadi kalo pulang malam langsung ngerem dan ngunci diri deh di rumah. Dan sebetulnya aku juga lagi “suka” sama teman kantor (lihat :lia).

kedekatanku dengan ciyu baru setahun sebelum aku kluar dari kerjaanku dan pulang ke Bandung. Suaminya sutradara dan sering pulang larut malam, jadi kadang kalo gak aku yang main ke rumah dia buat nemenin, dia yang ke rumahku sampai suaminya jemput.

Kita sering ngobrol di beranda depan bareng sama tetangga yang lain nunggu tukang bakso atau nasgor lewat,awalnya kita cuma berani pegangan tangan doang tapi kok waktu dia pengang tanganku erat ada perasaan “serr”.. akhirnya makin ke sini bukan cuma pegangan tangan, sesekali klitik2an atau gigit. Dia sering pancing duluan, kadang peluk aku. Aku palingan ngerespon aja. Kalo gigit aku paling hobi entah bahunya atau lengannya, dan waktu dia balas gigit kayaknya penuh nafsu gitu, palingan aku cuma menikmati sampai vaginaku basah..tapi gak ada seorangpun yang tau..hihihi

Tapi anehnya kalo didalam rumah lagi cuma berdua, dia gak berani ngapa2in, trus dia ngajak aku ke luar, dan waktu ngobrol di luar banyak orang dia malahan berani gitu deh. gak tau tuh apa dia takut ketahuan dengan perasaan yang sebenarnya atau takut kebablasan??

Rasa sukaku terus bertambah, apalagi waktu dia cerita rada kecewa sama suaminya karena ngaku dia sempat punya affair sama perempuan lain walaupun cuma sesaat. Aku gak tau, di fikiranku mungkin ciyu jadi ada hasrat sama aku karena kecewa..(tapi dia tetap baik2 aja sama suaminya)

Sejak akrab sama aku, ciyu jadi betah di depok biasanya dia sering minta pulang ke rumah ibunya di Tasik kalo suaminya libur. Makanya suaminya seneng juga kalo ciyu berteman dengan aku..(hehe gak tau dia kalo kita TTM..) Begitu juga dengan aku, aku jadi males mudik ke Bandung atau ke rumah kakakku di Tangerang kalo libur. Aku selalu pengen deket sama dia. Walaupun weekend aku mesti mudik juga, kita pasti sms an atau telpon. Waktu di kantor pun aku rasanya pengen cepet pulang aja, pengen cepet2 ketemu dia, apalagi kalo dia udah mulai miskol dan tanya apa aku sdh di depok, ntar malam mau makan apa, aku lagi siapin masakan, kamu mau gak..wah udah gak konsen deh kerjanya.

Hampir tiap malam kalo gak hujan deras kita selalu gantian berkunjung, kadang walaupun ada suaminya kita sering ngobrol sama2 dengan tetangga yang lain. kita sering sedih kalo lagi asik2nya bersama trus suaminya jemput dan ngajak pulang, malahan dia sering bilang “ya..ayah, kan masih jam 8, ayah pulang duluan aja deh sama si adek ntar bunda nyusul…hehe.
Kalau suaminya ada jadwal sampai di atas jam 11 malam, dia tidur dulu di rumahku, tapi kadang suka nginep juga. Aku sering belai rambut panjang dia sebelum dia tidur, tentunya belainya dengan penuh perasaan sampai ke kulit kepala (kayaknya dia menikmati deh), kepinginnya sih bukan cuma ngebelai rambutnya aja, pengennya bisa belai wajahnya juga, bibirnya, pengennya aku peluk, aku cium.. yah..vaginaku basah lagi deh. Tapi aku gak pernah berani, trus untuk menyalurkan birahiku paling aku masturbasi setelah dia gak ada..
dia ketagihan loh, karena setiap kali mau tidur selalu pengennya dibelai dulu walaupun kadang2 aku lagi gak mood, trus dia ngambek deh.. duh makin gregetan.

Someday waktu dia tiduran di tempat tidur, aku minta dia untuk geser dikit, istilahnya aku lagi ‘kepingin deket2an’ eeh dia bukannya nggeser, dengan posisi terlentang malahan kedua tangannya ‘masang’ untuk menyambutku. tanpa pikir panjang aku juga meraih tangan dia..hap, saat aku berada di sebelahnya dadaku berdegup kencang, apalagi waktu dia ngomong” ayo sini netek dulu sama mama” sembari memegang kepalaku menuju buah dadanya, ditantang begitu serasa diberi angin segar, walaupun ragu dan takut juga, aku coba mendekati dadanya, nyaris saja aku mencium buah dadanya, namun saat itu juga dia meronta, “aah..gak mau ah..hiih..” (mungkin berbaur antara perasaan mau, takut, dan merinding) kita sama2 tertawa, tapi tetap dalam posisi berpelukan, karena sudah terlanjur gitu, ya udah sekalian aja aku gigit tangannya.. trus dia bilang:” ih kamu, perempuan tapi suka banget gigitin aku, kayak suamiku aja..”
aku jawab: “biarin aja ah..”
lalu semua hening.. n nothing happen.

Trus waktu dia sakit panas demam, aku datang sama temanku untuk menjenguknya. Dia excited banget. Waktu kita ngobrol, dia malah asik pegang2 kakiku, tanganku, sesekali dia dekapkan tanganku diantara kedua pahanya, aku sih biasa aja cuma terdiam dan menikmati, gak berani berbuat banyak karena ada temenku yang lain juga. Akhirnya temanku pulang duluan, tapi aku gak mau ikut pulang dengan alasan mau menemani sampai suaminya ciyu pulang.. suasana hening..kita hanya nonton tv sambil ngobrol. Akhirnya suaminya pulang dan langsung masuk kamar. Aku langsung pamit mau pulang, tapi dia menahanku untuk menginap, aku bilang gak bisa, kamu harus istirahat kalau ada aku kamu gak akan bisa istirahat.. dia pegang tanganku lagi sambil merintih manja. ku pegang dahinya, wajahnya hingga lehernya. “kamu panas banget, sudah ya istirahat bobo, aku pulang..”
tapi dia makin merintih manja. aku usap aja bibirnya dengan tanganku,seraya berkata: “manja ih..”.
kita sama2 kaget dan tertegun beberapa saat, wajah kita saling memandang tanpa bicara. Lalu aku bersiap untuk bangun. tiba-tiba tanganku ditariknya, didekatkan ke bibirnya, lalu sambil memegang tanganku dia menciumi tangannya sendiri yang memegang tanganku, ah..mengapa bukan tanganku saja yang kau cium.. batinku (apa dia gak tau kalau vaginaku basah lagi..) Kalau saja tidak ada suaminya di rumah itu, ingin rasanya aku balik memeluk dia, mencium dia..namun terdengar langkah suaminya datang menghampiri, aku segera melepaskan tangannya. aku segera berdiri dan pamit..

Tibalah saatnya perpisahan, aku sudah resign dari tempatku bekerja, rumah kontrakanku pun sudah kosong. Saat itu dia nangis sesegrukan, sedangkan aku sama sekali tak bisa menangis..Sebel rasanya, karena sama teman yang lain aku berani pamitan sambil peluk dan cium tapi kenapa sama ciyu aku takut banget gak berani padahal pengen (dasar pengecut) Aku langsung pamit, tapi aku gak langsung pulang ke bandung melainkan ke rumah kakakku di tangerang untuk satu minggu. Perasaanku serasa hampa, satiap hari aku telpon dia, aku bilang kalau aku kangen ternyata dia juga demikian..
sebelum ke bandung aku sempatkan lagi untuk mampir ke depok. trus dia kasih aku permen, pas aku baca, tau gak permen apa, bacaannya ‘permen cinta’ (kayak permen pastilles yang di wadah kaleng seperti pagoda tuh..) bentuknya Love, warnanya pink..wuih…apaan ni..dengan perasaan berbunga2 aku langsung sms dia;
“makasih ya permen cintanya..rasanya sangat manis..akan selalu aku kenang, love u..”
lalu dia menjawab:” iya sayank, rasa permen itu melambangkan perasaanku padamu..love u 2.”
deg! wow! kebayang kan gimana berbunga2nya perasaanku..
wuih ternyata bukan cuma aku yang merasakan ‘itu’, dia juga..batinku.
Lalu aku pulang ke bandung, tapi sampai di bandung aku jadi kaya orang yang bloon, ragaku ada di bandung tapi jiwa dan pikiranku masih tertinggal di depok. Aku pikir aku gila. aku cerita sama dia, tapi ternyata dia juga sama, katanya semenjak aku gak ada perasaan dia jadi gak menentu. ya ampun… Aku makin kangen banget sama dia.. aku gak betah, aku gak nafsu makan, akhirnya aku jatuh sakit selama 2 minggu.. setelah sembuh aku mulai menata hidupku lagi untuk bangkit, lumayan, tapi tetep aja aku inget dia. Tiba2 aku dapat telpon dari kantor lama ku, mereka memintaku untuk datang mentraining kepala staff penggantiku selama seminggu. wah..kesempatan nih pikirku. aku langsung telpon dia, dia seneng banget tau aku mau datang dan nginep di rumah dia..

Namun selama seminggu aku menginap di rumahnya, semuanya berubah.Seperti kataku sebelumnya, kalo cuma berduaan dia gak berani ngapa2in.. Dia gak pernah lagi kasih sentuhan2 itu, aku kehilangan semua moment yang aku suka saat aku dekat dia.. mau mulai duluan mana berani..ok aku fikir semua memang harus selesai dan berubah. Hari demi hari kita lalui dengan biasa2 aja nothing special. hingga hari terakhir aku memutuskan untuk mengutarakan semua isi hatiku.
aku beranikan diri untuk ngomong, karena aku fikir dia sahabat sejati yang mungkin akan memaklumi dan memaafkan atas segala perasaanku atau aku berharap mungkin dia mempunyai perasaan yang sama dengan ku..nothing to loose aja deh. Dengan penuh rasa cemas, aku utarakan juga perasaanku saat sarapan. tapi aku gak berani ngomong langsung, aku ketik di HP ku dan minta ia membacanya, isinya:
“ciyu, sebenernya selama ini aku ada ‘rasa’ sama kamu, aku terjerat cinlok sama kamu…”
seolah gak percaya, sambil tertawa2 dia malah nuduh aku lagi mainin dia.
aku bilang “aku jujur, karenanya kamu boleh jadi marah, benci atau jijik sama aku, aku terima…” (padahal dalam hati pengennya dia juga bilang kalo punya perasaan yang sama sepertiku)
dia tanya kenapa?
aku jawab lagi, “ya karena perhatian kamu selama ini dan sentuhan2 kamu..kamu tau kan, tiga tahun aku ngekos di sini, sendirian, gak ada cowo atau temen yang begitu perhatian seperti kamu. lagian cinta kan datangnya bisa tiba-tiba dan kepada siapa saja, walau kadang salah orang dan tempat..”
Trus dia bilang, ” aduh kalau gitu aku yang salah,maaf ya..kalau selama ini bikin kamu salah menafsirkan semua, tapi aku gak bermaksud demikian, aku ngerasanya biasa2 aja.”
Trus dia tanya lagi:” apa sebelumnya kamu pernah punya rasa ini sama cewe lain?”
aku jawab dengan bohong: ” gak ada, cuma sama kamu aku ada rasa begini”
dia tanya lagi:”trus apa karena ini sampai sekarang kamu belum nikah?”
aku jawab:” bukan, kamu tau sendiri aku belum nikah karena emang belum ada yang cocok.”
suasana hening, semua jadi kikuk, semua gak seperti yang aku harapkan, tapi aku gak berani untuk bahas lebih dalam, aku gak berani tanya lebih jauh, semua berkecamuk dalam otakku. “masa sih, selama ini kamu gak ngerasain seperti yang aku rasa, lalu apa arti dan makna semua yang kamu lakukan??..” batinku. Tapi kita berjanji untuk bersikap seperti biasa.. ok aku pamit. plak..aku tampar pelan pipinya sambil tertawa, plak! dia pun balas tampar pipiku sambil berujar, itu tanda cinta…hahaha…aku bilang ‘hush, udah ah jangan kasih harapan kayak gitu lagi..’ kita berpisah lagi. Dengan perasaan yang sok tegar aku berlalu tanpa menoleh ke belakang lagi padanya… .

sebulan dua bulan, kita masih biasa aja sms an atau telpon. Tapi aku pernah nyuekin dia dengan gak bales sms nya, sekalipun bales aku jawab dengan sedikit ketus ceritanya mau bener2 coba nglupain dia. karenanya dia balik marah. gak ada satupun sms dan telponku dibalasnya lagi. saking penasarannya aku tanya sama dia, “kenapa sih gak ngerespon lagi, apa kamu marah bin jijik sama aku??”
dia jawab:” aku gak marah atau jijik sama kamu, cuma aja aku jadi bingung mesti gimana sama kamu, tetap deket takutnya kamu gak bisa ngilangin rasa itu, menjauhpun aku gak enak karena kamu sudah aku anggap lebih dari sahabat sejati, tapi aku pilih menjauh, demi kamu juga kan..”
I’m spechless, cuma bisa jawab ” ok fine. kalau gitu aku gak akan pernah ganggu kamu lagi, kalau aku ke depok pun gak akan mampir ke rumah kamu. BTW tolong jawab dengan jujur apa kamu pernah curhat masalah aku dengan seseorang?” dia jawab : “gak ada”
komunikasi sama dia terputus sampai disitu. aku juga sempat ke depok lagi tapi gak mampir ke rumah dia. mungkin ada yang cerita ke dia kalo aku mampir ke depok, kayaknya dia marah aku bener2 gak ngunjungin dia. tapi kan itu dia yang minta… akhirnya dia pindah kontrakan entah dimana. aku pernah coba sms dan telpon ternyata nomornya sudah tidak aktif. mau tanya orang2, malah malu sendiri..
sad ending.. she’s gone..but still on my mind..

Dia yang terakhir, sudah setahun aku di bandung tapi belum ada lagi sosok cwe yang nyangkut di benak. yang ada aku selalu menghayal tentang dia, dan hobi baruku…buka2 site “lesbi” di internet, atau cari film yang sedikit berbau lesbi.. kacau banget ya… bisa sembuh gak sih??


Yang Besar dan Yang Kecil

Posted: admin on Dec 15 | cerita sesama wanita | 35,690 views

Marissa (24 tahun, selanjutnya disebut Risa) adalah seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi swasta di kota Yogyakarta. Setelah semester 6 ini dia libur selama sekitar satu bulan. Dia mengisi waktu dengan melakukan kerja praktek pada sebuah industri di sebuah kota di Jawa Tengah. Karena tidak mempunyai saudara atau teman di kota tersebut, maka oleh direksi industri tersebut dia dititipkan ke rumah kontrakan salah satu karyawati yang bernama Gia Amalia (23 tahun, selanjutnya disebut Gia). Kebetulan Gia tinggal sendirian di rumah itu.

Malam itu Risa telah tiba di rumah Gia dan langsung dijamu dengan makan malam. Mereka berdua berbincang-bincang mengenai banyak hal. Selesai makan malam pun mereka masih asyik berbincang-bincang. Selama berbincang-bincang tersebut Risa sesekali melirik kedua payudara Gia yang berukuran 40. Kedua payudara Gia yang dilapisi bra berwarna hitam dan kaos putih ketat itu membuat iri Risa. Dia iri karena kedua payudaranya hanya berukuran 32.

“Kenapa Ris?” Tanya Gia yang rupanya memperhatikan lirikan mata Risa.
“Nggak kok.” Elak Risa sambil tersenyum.
“Jujur saja. Aku tahu apa yang kau pikirkan.”
“Bener mbak. Nggak apa-apa kok.” Risa masih mengelak. Dia juga menyebut Mbak kepada Gia meskipun dia lebih tua dari Gia. Risa sendiri yang minta untuk memanggil Gia dengan sebutan Mbak ketika tiba di rumah Gia karena alasan senioritas. Gia telah bekerja sedangkan dia masih kuliah.

“Kamu heran ya? Kenapa kedua payudaraku lain dengan kedua payudaramu?”
“Iya. Diapakan mbak? Pakai obat ya mbak?” Tanya Risa yang rambut lurus cepaknya berwarna kemerah-merahan.
“Pakai oil.” Jawab Gia singkat.
“Boleh minta?”
Gia hanya mengangguk dan berdiri dari kursi menuju kamarnya.
“Nggak usah sekarang mbak. Besok saja. Risa sudah ngantuk. Mau tidur. Besok kan mulai kerja.” Cegah Risa yang juga berdiri dari kursi.

Gia yang rambut panjangnya berombak dan hitam serta diikat membalikkan tubuhnya dan membereskan meja makan dibantu oleh Risa sambil membicarakan masalah-masalah pekerjaan besok. Setelah itu mereka berdua menonton televisi. Hanya sebentar Risa menonton televisi. Gia menyuruh Risa tidur di kamar yang telah disiapkannya. Dia sendiri juga menyusul tidur.

Risa yang masih lelah karena perjalanan dari Yogya berusaha tidur. Bayangan kedua payudara Gia yang besar membuatnya sulit tidur. Akhirnya setelah beberapa saat dia pun tertidur. Pagi harinya dia terbangun. Dia lalu menuju dapur. Disana telah ada Gia yang tingginya sama dengan tingginya, yaitu sekitar 165 cm. Beratnya saja yang beda. Beratnya sekitar 48 kg. Sedangkan berat Gia sekitar 50 kg. Dia sedang membuat teh. Risa menghampirinya. Gia yang menyadari kedatangan Risa lalu berbalik.

“Bagaimana? Bisa tidur nggak?” Tanya Gia.
“Nggak bisa mbak. Ingat payudara Mbak sih.” Jawab Gia sambil tersenyum yang dibalas oleh Gia dengan senyuman. Kemudian lanjutnya.
“Boleh nggak mbak, Risa lihat kedua payudara mbak?”
Tanpa menunggu persetujuan Gia, Risa sudah membuka ikatan kimono tidur berwarna coklat yang dipakai Gia. Rupanya tubuh berkulit sawo matang tersebut hanya memakai celana dalam berwarna putih. Gia juga membuka ikatan kimono tidur berwarna hitam yang dipakai Risa. Sama dengan dirinya. Risa yang berkulit putih mulus juga hanya memakai celana dalam berwarna kuning. Mereka berdua menjatuhkan kimono masing-masing ke lantai. Dan Risa langsung membelai payudara kanan Gia.

“Eeehmm..” Desah Gia.
Gia lalu membalikkan tubuh Risa. Dibelainya tato bergambar kepala cewek di punggung sebelah kanan Risa. Dia lalu membelai paha kiri Risa dengan tangan kirinya.
“Eeehmm..” Desah Risa.
Lalu diturunkannya celana dalam yang dipakai Risa sampai terlepas dari tubuhnya. Kemudian giliran Risa yang menurunkan celana dalam yang dipakai Risa sampai terlepas juga dari tubuhnya. Risa lalu jongkok dan membelai belahan kedua payudara Gia dengan tangan kanannya.
“Eeehmm..” Desah Gia.
Tangan kiri Gia lalu memegang tangan kanan Risa dan diremaskannya ke payudara kirinya.
“Ooohh..” Desah Gia.
Risa lalu mundur dan duduk di kursi sambil menarik tubuh Gia. Sambil duduk dia menjilati payudara kanan Gia.
“Eeehmm..” Desah Gia.
Tangan kirinya membelai vagina Gia. Tangan kirinya lalu meremas payudara kanan Gia dan lidahnya menjilati puting payudara kanan Gia.
“Ooohh..aahh..oohh..eehmm..” Desah Gia.
Beberapa saat kemudian Risa membalikkan tubuh Gia. Dari belakang kedua tangannya lalu membelai kedua payudara Gia dan dilanjutkan dengan meremas kedua payudara Gia.

“Eeehmm..oohh..” Desah Gia.
“Sudah Ris. Nanti kita terlambat. Kita kan belum mandi dan sarapan.” Kata Gia sambil melepaskan diri dari jamahan Risa. Kemudian Gia masuk ke kamar mandi yang tepat berada di samping dapur. Risa mengikutinya.
“Bolehkah aku ikut mandi dengan mbak?” Tanya Risa yang masih berdiri di pintu kamar mandi.
Gia yang sedang mandi di bawah pancuran hanya menganggukan kepala sambil tersenyum menantang. Risa kemudian bergabung mandi dibawah pancuran. Dia langsung disambut dengan Gia yang menempelkan tubuhnya ke tubuh Risa. Dia mematikan pancuran dan tangan kirinya membelai vagina Risa dan tangan kanannya memeluk pinggang Risa.

“Ooohh..aahh..” Desah Risa.
Kemudian Gia semakin merapatkan tubuhnya yang basah ke tubuh Risa yang juga basah. Kedua payudaranya menempel di kedua payudara Risa yang kecil.
“Ooouhh..” Mereka berdua sama-sama mendesah.
Bibirnya ditempelkan juga ke bibir Risa. Mereka berdua berciuman dan saling berjilatan lidah. Tiba-tiba Risa terpeleset. Untung dia bisa cepat menguasai tubuhnya sehingga dia tidak merasa kesakitan. Tapi dia tidak segera berdiri. Dia ingin Gia menolongnya. Dengan harapan dia dapat menarik tubuh Gia supaya ikut terjatuh. Ternyata Gia mengambil selang pancuran dan airnya disemprotkan ke vagina Risa. Hanya sebentar. Dia lalu berjongkok dan menyabuni vagina Risa dengan sabun. Diciumnya juga bibir Risa yang membalas dengan hebatnya. Lama sekali Gia menyabuni vagina Risa sambil sesekali jari tengah tangan kanannya dimasukkan ke vagina Risa. Sementara tangan kirinya menuangkan sabun cair ke dalam bathtub.

Lalu Gia menarik tubuh Risa untuk masuk ke dalam bathtub. Mereka berdua lalu saling mengusapkan busa sabun ke tubuh mereka. Sesekali mereka berdua berciuman sambil saling menjilatkan lidah. Mereka berdua juga saling berpelukan dan menempelkan kedua payudara mereka.
“Ooouhh..” Mereka berdua sama-sama mendesah.
Kemudian Risa membersihkan busa sabun yang berada di kedua payudara Gia dengan kedua tangannya. Dijilatinya puting payudara kanan Gia.
“Eeehmm..” Desah Gia.
Perlakuan Risa membuat tubuh Gia semakin naik dan menjadikan dia berdiri dengan bersandar pada dinding kamar mandi. Risa sudah tidak lagi menjilati puting payudara kanan Gia. Kini dia membersihkan busa sabun di vagina Gia dengan air. Lalu dia menghisap vagina Gia dengan lidahnya.
“Aaaghh..oohh..” Desah Gia.
Gia hanya bisa meremas-remas sendiri kedua payudaranya dengan kedua tangannya. Sesekali tangan kiri Risa juga meremas payudara kiri Gia.
“Ooohh..” Desah Gia.
Mulutnya naik kembali ke atas dan menghisap payudara kiri Gia sambil jari tengah tangan kanannya mengocok vagina Gia.
“Oooughh..aahh..oouhh..” Desah Gia.
Dia lalu menempelkan kedua payudaranya ke kedua payudara Gia.
“Ooouhh..”
Dipeluknya Gia sambil menjilati lehernya. Tangan kiri Gia juga meremas pantat Risa.
“Eeehmm..” Mereka berdua sama-sama mendesah.
Risa kemudian menyodorkan payudara kanannya yang kecil ke mulut Gia yang mau saja menghisapnya.
“Oooughh..” Desah Risa.
Tetapi hanya sebentar. Gia menuntun Risa untuk membungkuk dengan kedua tangan berpegangan pada dinding kamar mandi. Digesek-gesekannya kedua payudaranya ke punggung Risa.
“Ooouhh..” Desah Gia.

Mereka berdua kemudian sadar bahwa mereka akan bekerja. Sehingga akhirnya mereka menyudahi permainannya. Mereka berdua kemudian mandi sambil sesekali masih saling membelai tubuh mereka. Terutama Risa yang sering membelai kedua payudara Gia bergantian. Dia terpesona dengan kedua payudara Gia yang besar.
Sore harinya ketika pulang dari bekerja. Permainan mereka berdua berlanjut kembali.
“Mbak. Minta oilnya dong.” Kata Risa.
“Sini.” Kata Gia sambil menarik Risa ke kamarnya.
“Buka semua pakaianmu.” Lanjut Gia.
Risa hanya menurut saja. Dia membuka semua pakaiannya. Ternyata Gia juga membuka semua pakaiannya. Kecuali celana dalam. Gia lalu mengambil sebuah botol dari lemarinya. Botol yang bertuliskan Breast Oil. Kemudian dihampirinya Risa yang sedang melepas miniset yang dipakainya. Dia tinggal memakai celana dalam. Gia kemudian memegang payudara kanan Risa dan menuangkan isi botol ke payudara kanan Risa setelah membuka tutupnya. Tangan kirinya kemudian meremas-remas payudara kanan Risa.

“Ooohh..” Desah Risa.
Kemudian remasan tangan kirinya berpindah ke payudara kiri Risa.
“Ooohh..” Desah Risa.
Dia lalu membalikkan tubuh Risa dan menuangkan isi botol ke punggungg Risa. Diletakkannya botol itu ke meja dan dengan kedua tangannya diratakannya cairan itu ke seluruh tubuh Risa bagian atas.
“Eeehmm..” Desah Risa.
Lalu dibalikkan kembali tubuh Risa sambil tangan kanannya mengambil botol di meja. Diserahkannya botol itu ke Risa.
“Gantian ya.” Kata Gia.
Risa hanya mengangguk sambil menerima botol itu dari tangan Gia. Dia kemudian menuangkan isi botol ke kedua payudara Gia sekaligus dalam jumlah besar. Kemudian dilemparkannya botol itu ke tempat tidur setelah ditutup. Kedua tangannya kemudian meratakan cairan itu ke seluruh tubuh Gia bagian atas terutama ke kedua payudara Gia.
“Eeehmm..oohh..” Desah Gia.
Setelah dirasa cukup, Gia lalu memeluk Risa dan menggesek-gesekkan kedua payudaranya ke kedua payudara Risa selama beberapa menit.
“Ooouhh..”
Lalu mereka berdua melepaskan pelukan dan saling meremas kedua payudaranya.

“Ooohh..”
Gia menghentikan remasannya pada kedua payudara Risa. Dia keluar kamar dan mengambil dua botol air mineral dari kulkas. Dia masuk kembali ke kamar dan dilihatnya Risa masih meremas sendiri kedua payudaranya.
“Ooohh..” Desah Risa.
Di depan Risa, Gia membuka salah satu botol dan dengan menari-nari dia mengucurkan sedikit demi sedikit air itu ke kedua payudaranya. Gia membersihkan cairan dengan air mineral itu.
“Eeehmm..” Desah Gia.
Risa tertarik dan mengambil botol satunya dari tangan Gia. Dengan berhadap-hadapan Risa juga membersihkan cairan pada kedua payudaranya sendiri.
“Eeehmm..” Desah Risa.
Gia melihat sebuah kesempatan. Tangan kirinya meremas dan menjilati payudara kanan Risa yang bertambah besar dari biasanya meskipun tidak sebesar dari yang dia punya.
“Ooohh..eehmm..” Desah Risa.
Dibalikkannya tubuh Risa dan dari belakang tangan kirinya meremas kedua payudara Risa bergantian.
“Ooohh..” Desah Risa.

Sementara tangan kanannya masih mengucurkan air dari botol. Tangan kanan Risa juga mengucurkan air ke kedua payudaranya. Tubuh mereka berdua basah dan Risa membalikkan tubuhnya. Dipeluknya Gia. Kedua payudara mereka yang berbeda ukuran menempel dan saling menggesek.
“Ooouhh..” Mereka berdua sama-sama mendesah.
Hampir tiap hari Gia meremas kedua payudara Risa dengan Breast Oil yang berlanjut dengan percumbuan yang sangat panas.. Sampai akhirnya kedua payudara Risa sama besarnya dengan kedua payudaranya bertepatan dengan berakhirnya masa kerja praktek Risa di tempat Gia bekerja.



Sebuah Keputusan

Nama panggilanku Jenni. Tahun ini usiaku menginjak 25 tahun. Di usia yang masih belum terlalu tua ini sudah banyak yang bisa diceritakan, terutama tentang kehidupan seksualku. Namun sebelum bercerita lebih banyak, aku ingin memberikan sedikit info tentang diriku.

Aku kini tinggal di kota S sejak aku pindah ke Indonesia pada tahun 1988, dan aku hidup berbahagia bersama pasanganku yang nama panggilannya adalah Evil. Kami telah hidup bersama sejak 1996, dan sejak SMA, aku telah memutuskan untuk mencintai sesama jenis, bukan karena apa-apa, tapi aku memang tidak bisa tertarik secara seksual dengan kaum Adam. Menurut banyak orang, wajahku tidak jelek, dan tubuhku memang tidak 'serba besar' namun tinggi badanku yang di atas normal (182 cm) cukup memberiku nilai tambah.

Aku bukan seorang model, tapi aku pernah memanfaatkan tinggi tubuhku untuk berprestasi di sebuah klub bola basket. Sayang sekali waktu itu aku bukan warga negara Indonesia, sehingga aku tidak jadi masuk pelatda. Well, aku memulai 'kehidupan bebas'ku sejak aku bekerja sebagai pramugari di salah satu penerbangan internasional pada tahun 93-95. Hampir seperempat bagian bumi telah kujelajahi, dan di setiap negara, di setiap persinggahan, selalu kusempatkan waktu untuk memenuhi kebutuhan biologisku yang menggebu, dengan sesama wanita, tentu saja. Nah, inilah sebagian dari cerita-ceritaku, plotnya memang berdasarkan kenyataan, namun detailnya ada yang dikurangi dan ditambahi, agar layak dibaca dan tidak membosankan.

Ruang ganti 1991.
Kisah ini terjadi pada saat aku masih kelas 2 SMA, di salah satu SMA negeri di kota S, di Indonesia. Aku mengikuti ekstra kurikuler bola basket. Aku bersama 2 temanku Evelline (ia senang dipanggil Evil) dan Reni, memiliki tinggi tubuh yang di atas rata-rata orang Indonesia, sehingga kami menjadi tulang punggung tim. Waktu itu kami baru saja dikalahkan oleh tim SMA lain dengan cara yang menurut kami sangat curang, padahal itu adalah partai final di sebuah kompetisi. Sebagai kapten tim, aku sudah mendapat semprotan cukup kasar dari pelatih sekolah, yang juga pelatih di klub basketku di luar sekolah. Aku duduk sendirian dengan mata berkaca-kaca di bangku panjang di dalam kamar ganti, melihat rekan-rekan setimku berlalu-lalang dengan kepala tertunduk dan wajah penuh penyesalan, mereka mandi, berganti pakaian, lalu meninggalkan ruangan. Sampai keadaan begitu sepi dan senyap, waktu itu pukul lima sore. Aku melihat kedua rekanku, Evil dan Reni berjalan masuk ke locker room, mereka mencoba tersenyum menghiburku, lalu mereka duduk di kiri kananku.
Lama sekali kami terdiam bertiga. Sampai akhirnya Reni memecah kesunyian, "Hmm.., lupakanlah pertandingan tadi, it wasn't a great deal", katanya.
"Yah, kamu bener, ayo kita mandi terus cari minum", jawabku sambil berdiri.
"Jen, however, kamu tadi hebat sekali, lho!", kata temanku Evil sambil ikutan berdiri. Tingginya yang 186 cm itu membuatku harus sedikit mendongak kalau berbicara dengannya di jarak dekat.
"Terimakasih, Vil, kamu juga hebat", aku memegang lengannya sambil menatap matanya.
Sebelum malam itu, aku belum pernah merasakan hubungan badan, apalagi dengan sesama jenis, namun saat itu aku merasakan ada kehangatan yang 'lain' di tatapan Evil. Tanpa kusadari, wajah kami mendekat. Aku bisa melihat dengan jelas wajahnya yang cantik, matanya yang sayu, bibirnya yang tipis dan indah. Aku memejamkan mata ketika merasakan bibir kami berpagutan, saling berkulum mesra. Aku tidak tahu apa yang merasukiku, namun aku tiba-tiba dikuasai oleh hasrat birahi. Aku mendorong tubuh Evil hingga ia tersandar di lemari locker, ciumanku menjadi liar dan menjelajahi leher dan rahangnya. Ia hanya memeluk pinggangku erat sambil memejamkan matanya.

Tiba-tiba aku merasakan dua telapak tangan merengkuh dadaku dari belakang. Ternyata Reni. Ia memelukku dari belakang dan dengan penuh hasrat mencium dan menjilati tengkukku. Rasanya begitu geli. Kedua tangannya meremas dan mengusap kedua payudaraku lewat kaosku yang basah oleh keringat. Sementara Evil terus saja memeluk pinggangku dan menciumi bibirku. Beberapa menit kemudian kami melepaskan pelukan, saling bertatapan, dan tanpa berkata-kata, kami bergegas masuk ke dalam kotak shower. Tanpa melepaskan kaos tim kami, Reni menyalakan shower, air dingin menyiram tubuh kami bertiga. Reni segera mematikan lagi shower itu sambil tertawa nakal. Kami basah kuyup. Aku tak henti menatap keindahan tubuh kedua temanku yang tercetak dengan manis oleh kaos yang basah itu, namun tanpa kusadari mereka juga menatap tubuhku. Aku mengenakan bra sport tanpa cup, sehingga mereka dapat dengan jelas melihat warna dari kedua puting susuku di balik kain yang basah. Karena baju kaos kami putih, maka perbedaan warnanya pun terlihat jelas.
"Jenn, biarkan kami menghiburmu, ok?", kata Evil sambil sikutnya menyenggol Reni yang buru-buru mengangguk.
"Bagaimana?", tanyaku gugup.
"Diam, dan nikmati", kata Evil sambil menatap mataku. Karena ia adalah satu-satunya temanku yang lebih tinggi dan kuat daripada aku, aku memutuskan untuk diam saja. Lalu ia memelukku dari belakang, tangannya naik turun di pinggangku, menyingkapkan kaos basah, telapak tangannya terasa hangat sekali di pinggang dan perutku. Ia juga menciumi leher dan pundakku, membuatku terpejam dan menikmati. Tangannya meremas payudaraku tanpa menyentuh putingnya, ia memberi isyarat pada Reni. Reni memeluk pinggulku dari depan, mulutnya memberikan ciuman cepat di bibirku, lalu turun menjelajahi leherku. Diangkatnya kaosku, hingga bra sportku yang juga basah kuyup itu terlihat. Ia membuka kaitan di depan bra sportku itu. Aku agak merinding ketika merasakan kedua payudaraku kini terpampang bebas di hadapan sahabat akrabku itu. Tanpa banyak bicara, Reni mengulum puting susuku yang kiri, membuatku tersentak kegelian, namun Evil memegangi tubuhku agar tidak terpeleset. Reni terus saja mengulum puting kiriku, menjilat, dan puting kananku diusapnya pelan, dijentik-jentikkan dengan jarinya, dan aku tak tahu apa lagi yang dilakukannya, yang jelas aku merasakan kehangatan dan kegelian yang luar biasa mengalir masuk lewat kedua putingku. Tiap jilatan dan usapan yang mengenai putingku terasa begitu indah dan membuat tubuhku serasa lemah.

Beberapa menit lamanya aku berdiri dipegangi Evil, sementara Reni mengulum dan memainkan ujung-ujung payudaraku. Aku menggeliat-geliat kegelian, putingku telah membengkak merah, dan kakiku gemetar tak kuat menahan beban tubuhku. Aku merasakan sesuatu yang hangat mulai mengalir dari dalam liang vaginaku yang juga berdenyut-denyut. Evil menurunkan tangannya dari pinggangku, merayap turun, menyusup ke dalam legging yang basah, celana dalam, dan ia menyentuh kelaminku. Mungkin ia menjentik-jentikkan jarinya di clitorisku, atau mungkin memilin-milinnya, aku tak tahu, tapi aku merasakan geli dan kenikmatan yang luar biasa dari bawah sana. Aku semakin menggelinjang-gelinjang tak tahan. Reni terus saja mengulum dan menghisap kedua putingku sambil meremas dagingnya, sementara jari-jari Evil beraksi di dalam lubang kewanitaanku, menusuknya, menariknya masuk, menjentikkan clitorisku, dan begitu terus. Kenikmatan mengaliri tubuhku lewat kedua puting dan vaginaku, menguasai sekujur tubuhku. Aku tetap menggelinjang-gelinjang kegelian sampai akhirnya tiba-tiba aku merasakan sesuatu meledak dari dalam liang vaginaku, aku menjerit tertahan, tubuhku menegang, tanganku memeluk tubuh Reni kuat-kuat. Evil menghentikan gerakan jarinya di liang vaginaku, sementara Reni terus menggoyangkan lidahnya menjilati putingku. Namun aku merasakan kenikmatan yang tak terkira. Begitu hangat dan indah. Tubuhku seperti kejang beberapa saat, namun kemudian aku merasa lemas sekali, dan lututku terasa pegal. Aku terduduk di lantai shower box. Setengah terpejam oleh sisa-sisa orgasme hebat tadi. Pandanganku agak kabur, dan kepalaku terasa agak pening, namun aku masih dapat melihat Evil dan Reni berpelukan, saling mencium, saling membelai. Keduanya berpelukan erat, saling memainkan alat kelamin. Sebenarnya aku ingin melihat lebih jauh, tapi pertandingan yang tadi, ditambah orgasme yang begitu hebat telah menguras tenagaku. Aku terpejam dan kehilangan kesadaranku sambil terduduk di lantai shower box yang dingin itu. Aku baru terbangun setelah Evil membangunkanku. Ketika melihat dia dan Reni telah berpakaian rapi dan bersisir klimis, aku buru-buru mandi, berpakaian, dan kami bertiga berjalan menuju tempat pondokan kami di dekat kompleks sekolah kami.

Sejak itu, aku sering melakukannya dengan Reni, yang menjadi pacarku waktu itu. Kami berpisah setelah lulus SMA. Karena alasan biaya, aku langsung bekerja di penerbangan internasional di Singapura, sementara Reni dan Evil pergi ke negara lain untuk melanjutkan kuliah. Kami baru bertemu lagi di tahun 1998, namun tentu saja itu adalah cerita yang lain lagi.


Hot Weekend Bersama Sandra - 1

Posted: admin on Jul 10 | cerita sesama wanita | 14,606 views

Perjalanan rafting kali ini betul betul melelahkan. 4 jam berada di atas perahu karet dan menelusuri sungai yang menggelegak sangat menyenangkan. Sandra dan saya memang berencana untuk bermalam di Pelabuhan Ratu setelah seharian bermain air. Seusai makan siang dan membersihkan diri di base terakhir, kami beranjak pergi. Sandra, teman saya dari Perancis, tak habis-habis memuji keindahan alam yang kami lewati. 15 menit saya tancap gas jeep kesayangan saya, akhirnya tiba jualah kami ke hotel tepi pantai yang telah kami book dari Jakarta.

Ternyata kamar yang kami pesan adalah family room, yang terdiri dari 2 queen bed size. Saya langsung terlelap ketika kepala saya menyentuh bantal yang empuk dilapisi dengan sarung bantal yang bersih dan harum, sementara Sandra masih duduk di teras, mengagumi keindahan pantai laut selatan yang berdebur tiada henti.

Jam 6 sore saya terbangun karena suara gemericik dari kamar mandi. Ah, ya! Makan malam! Saya harus mandi sekarang.
“Sandraa, kita makan nggak malam ini??” Dia menjawab dari dalam ,
“Iyaa, ini saya mandi, sebentar lagi saya siap!!”. Dengan malas-malasan saya bangun. Tak lama Sandra keluar dari kamar mandi dengan sarung Bali kebanggannya terlilit di tubuhnya yang sintal.
“Hey cepat mandi, saya lapar!”.
“Iyaa.. ini saya mau mandi!” seraya mengambil alat-alat mandi saya dan beringsut ke arah shower.

Setelah menikmati shower hangat sekitar 15 menit, saya kenakan kembali t-shirt saat saya keluar dari kamar mandi. Saya tercengang dengan pemandangan yang ada dihadapan saya sekarang. Sandra, bertelanjang bulat diatas queen size bednya, sedang menggosokkan minyak olive pada tubuhnya. Saat itu dia sedang mengoleskan pada bagian buah dadanya yang lebih besar dari milik saya.

Sesungguhnya ini bukan hal yang pertama kali terjadi karna kami sering melakukan perjalanan bersama, tetapi kali ini mata saya tak dapat berpaling karna posisinya begitu frontal dengan pintu kamar mandi. Tiba-tiba dada saya bergemuruh, tetapi saya diam saja, mengambil baju dalam dan jeans untuk dikenakan nanti. Dengan tenang dan agak gemetar, saya lepaskan t-shirt saya, memunggungi Sandra dan juga melumuri badan saya dengan body lotion.

“Kinan, kamu nggak pernah cukur ya?” tanyannya tiba-tiba.
Saya menoleh, “Cukur?, tentu aja! Ini liat!” kata saya sambil mengangkat tangan, memamerkan ketiak saya yang bebas bulu.
“Bukan, maksud saya pubic hair!”, balasnya tertawa.
Saya tertegun “Oh, itu.. hm.. saya malas, habis gatal sih. Memang kamu cukur?” kata saya sambil kembali memunggunginya.
“Ya, tiap hari.. nggak plontos sih, biar rapi aja. Kalau begini nggak gatal. Kamu coba deh.. pasti pacar kamu senang”.
“Malas ah, kalau tiap hari”. Tiba-tiba Sandra berguling ke tempat tidur saya dan berlutut di hadapan saya sehingga mata kami sejajar
“Ini lihat! Apa menurut kamu nggak bagus?”. Saya betul-betul kaget, tidak menyangka bahwa dia betul-betul minta perhatian. Pelan-pelan mata saya menelusuri tubuhnya dan terhenti di bagian pubic. Tak tercukur plontos memang, tetapi ada sisa segaris rambut yang menyebul di bawah perutnya.
“Ayo kenapa nggak coba? Anderan pasti tergila-gila”, katanya merayu.
“Aduh, Sandra, saya ngeri main silet di daerah itu.. ntar kalau saya berdarah gimana??”.
“Mau saya tunjukan caranya biar nggak luka? Ayo, sini!!” katanya bersemangat. Diletakkannya selembar handuk di tepi ranjang, dan dikeluarkannya alat- cukurnya yang masih baru dari beauty case birunya. Dibimbingnya saya duduk di bibir ranjang.
“Celanamu dibuka doong, bagaimana aku mulainya?” katanya membuyarkan saya yang lagi terbengong-bengong. Pelan-pelan saya buka g-string saya. Kami berdua betul-betul telanjang sekarang.

Saya masih juga terpana akan semangat Sandra untuk mencukur pubic saya.
“Nah, kamu sekarang tiduran, tapi kakinya tetap menggantung ya.” Ada perasaan aneh yang menyelimuti dada saya, tetapi saya masih diam saja mengikuti perintahnya.
“Kakimu dibuka dong”. Saya buka kaki saya sedikit. Dia jongkok didepan memek saya. Tanpa berkata-kata, dia buka kaki saya lebih lebar lagi. Saya yakin dia melihat seluruh vagina saya. Perasaan aneh menggelora di sekujur tubuh saya. Saya belum pernah mengalami hal semacam ini dengan wanita. Dengan Andrean, biasanya saya tidak merasa aneh ketika ia mulai menjilati memek saya. Saya merasa ada angin hangat pada selangkangan saya. “Apa? dia menghirup aroma vagina saya?” teriak saya dalam hati.

Persis seperti ketika Andrean mulai mengerjai memek saya dengan lidahnya. Tetapi Sandra tidak menjilati vagina saya, ia mengoleskan sabun cair yang telah bercampur dengan sedikit air pada alur pubic saya dengan jari-jarinya yang lembut. Vagina saya seketika berdenyut, darah saya mengalir dengan cepat. “Tidak, saya tidak sedang bercinta” jerit saya dalam hati sambil menutup mata, pasrah pada mata silet ditangan Sandra.

Jari-jari kiri Sandra memegangi pangkal paha, untuk menahan agar kaki saya tidak menutup tiba-tiba. Jari-jari itu ada disebelah dalam paha saya, bergerak hati-hati, bahkan seperti mengusap.
“Tahan ya, saya mulai nih” katanya dengan konsentrasi. Sreet.. sreett.. mata silet itu mulai mencukur pubic saya bagian luar. Tungkai kaki kiri saya dinaikkan ke ranjang dengan hati-hati. Lagi-lagi saya menarik napas panjang.. rasanya geli bercampur ngeri merasakan mata pisau silet itu menari-nari di daerah sensifif saya.
“Sandra, stop.. aduuh”, jerit saya.
“ha? Kenapa?”.. saya bangun dan meringis
“Geli, tau..”, Sandra tertawa,
“Iya, tau. Tahan sedikit! Ayo, mulai lagi. Coba rileks, sweety..”. Saya menjatuhkan lagi badan saya ke ranjang menarik napas dan menutup mata lagi. Kali ini saya berharap mudah-mudahan proses ini cepat berlalu, karna sejujurnya, sebetulnya saya HORNY!! Saya buka kaki saya lagi. Kali ini Sandra memegang selangkangan saya agar bisa melihat jelas alur pubic saya bagian dalam.
“Yang lebar dong..” rayunya. Saya lebarkan lagi kaki saya. Kali ini kedua tungkai kaki saya tertekuk di atas ranjang. Tak tahan, saya raih bantal untuk saya peluk dan berharap dapat meredam gelora tubuh saya. Sreet.. hati-hati Sandra mencukur pubic saya bagian dalam.
“Hati-hati..” kata saya lirih.
“Hmm.. ” katanya dari balik bantal saya, sembari sesekali mencuci mata pisau dengan air hangat yang ia sediakan. Saya gigit bibir saya kuat-kuat. Vagina saya mulai berdenyut lagi.. rasanya hangat disitu. Saya yakin Sandra melihat selangkangan saya mulai basah, bukan karena air sabun, tetapi basah alami.
“Udah beluum?” Tanya saya ngeri..
“Sebentar lagi,.. sabar..” katanya. Mata silet itu terasa menari semakin dekat dengan mulut vagina saya. Perasaan saya bertambah campur aduk.

Menit-menit berlalu bagaikan bertahun-tahun. Akhirnya Sandra berucap “Hua.. selesai”..
saya legaa sekali, dan segera menutup kaki saya lagi
“Eit, tunggu, belum dibersihkan”, katanya. Pelan-pelan, dengan handuk hangat dia menyeka paha bagian dalam saya, membersihkan dari sisa-sisa rambut yang dibabat-nya tadi. Mulai dari atas, kemudian selangkangan saya, kemudian pelan-pelan di bagian vagina saya.
“Ehm.. biar saya saja.. thank’s” kata saya jengah. Dan saya melanjutkan pembersihan itu sendiri. Rasanya aneh sekarang, karena pubic saya jadi sedikit. Dingin! Sandra memandang hasil karyanya dengan bangga, ” Gimana? Bagus kan?” katanya sambil menyambar cermin kecil dari dalam tasnya.
“Ini, coba kita lihat”. Diberikannya cermin itu kepada saya. Otomatis, saya buka lagi kaki saya dan memperhatikan pussy saya yang sekarang plontos
“Wah..Thank’s! jadi kelihatan ya!” kata saya. Sandra tersenyum, sambil tetap melihat hasil karyanya.
“Oh, Kinan, lihat, masih ada yang tertinggal!” katanya sambil menunjuk ke arah selangkangan saya.
“Oya?”, Sandra lagi lagi berlutut di muka pussy saya. Kali ini dengan kedua ibu jarinya dia pegang selangkangan saya yang masih terbuka.
“Kinan..” katanya lirih..”Ini adalah pussy terindah yang pernah saya lihat”, matanya tak lepas dari selangkangan saya, pelan-pelan dilelusnya pussy saya dengan kedua ibu jarinya. Dada saya terbakar.
“Sandra, saya bisa horny kalau kamu perlakukan saya begitu..” Sandra seakan tak perduli, dia tetap mengelus pussy saya perlahan-lahan
“Wangi sekali..” Saya tak tahan lagi.. saya tarik Sandra ke ranjang, saya sambar lehernya dan mulai menciuminya dari belakang.

Sandra tampak pasrah saja, apalagi ketika saya raih puting susunya yang berwarna merah muda dan mancung, minta dihisap. Saya ciumi lehernya dan mulai memainkan puting susunya. Saya cubit sedikit putingnya bersamaan dan Sandra mulai mengerang, kemudian saya mulai pelintir putingnya ke arah yang belawanan dengan lembut..lidah saya mulai turun ke pundaknya. Tangan Sandra mulai mecari letak vagina saya yang menempel pada pantatnya yang semok sementara saya terus meremas susunya yang empuk dan memlintir puting susunya dari belakang.Dengan satu gerakan, kami sekarang berhadap-hadapan.

Seperti tak mau kalah, Sandra langsung menyambar bibir saya, mencari lidah saya dan kami saling mengulum dengan liar. Saya hisap lidahnya dan Sandra menjilati bibir bawah saya dengan buas. Tiba-tiba ciumannya berpindah ke leher saya, dan cep! Ia langsing mengulum puting kanan saya, dan tangan satunya memuntir puting kiri saya. Dada saya berdenyut. Baru kali ini saya diciumi wanita, sensasinya aneh tetapi saya sudah tak mau kehilangan moment lagi. Walaupun masih dalam keadaan duduk, tubuh Sandra saya telikung dengan kaki. Saya usap rambutnya yang panjang dan coklat itu, sambil saya tarik kepala saya kebelakang.

“Ohh.. Sandra.. terus Sandra.. sshh..”..
sekarang, gantian puting kiri saya dikulumnya, lidahnya menari-nari dan sesekali dihisapnya dengan kuat. Tak tahan melihat susunya yang mencuat di bawah, perlahan saya remas dengan tangan kiri saya. Kemudian perlahan lidahnya turun ke arah perut, Lidahnya berputar, memainkan lubang pusar saya. Geli dan amat sensasional sekali rasanya.

Sebelum saya betul-betul menikmati tarian lidahnya di pusar saya itu, ia sudah berpindah lebih rendah lagi ke arah cukuran hasil karyanya kebanggannya. Dibukanya kaki saya dengan kedua tangannya, kali ini bukan ibu jarinya yang mengelus pussy saya tetapi lidahnya yang dengan gerakan berputar pelan-pelan menjelajahi pussy saya. Lembut sekali. Saya mendesah karena sensasi yang ditimbulkannya.

“Auhh.. oo.. yaa..”lidahnya naik turun pada permukaan vagina saya dan akhirnya clitoris saya dijilatnya berputar pelan-pelan. Saya rasakan nafasnya yang menderu dan hangat. Darah saya mendesir cepat. Saya amat menikmati sensasi ini dan Sandra tetap berimprovisasi dengan arah jilatannya yang berbeda-beda, membuat kepala saya hampir pecah. Kemudian dilepaskan bibirnya, digantikan dengan ibu jarinya dengan lincah menggosok dan memainkan clitoris saya dengan gerakan memutar.

Pelan-pelan, dimasukkannya jarinya kedalam vagina saya, kali ini ia mulai lagi menjilati clitoris saya lebih keras. “Aaagghh,.. iya, begitu honey.!!” saya gelagapan karena kenikmatan yang tiba-tiba menyergap tubuh saya ini. Saya remas sendiri susu saya dan tarik-tarik sendiri puting keduanya. Kali ini Sandra masukkan 2 jarinya dan digerakkan keluar-masuk dengan lembut, dan lidahnya tak henti menjilat dan mengulum clitoris saya.

Saya belum pernah merasakan kenikmatan secepat ini sebelumnya. Sandra menghisap-hisap klitoris saya dengan keras. Tiba-tiba saya ingin pipis yang tertahankan dan badan saya ingin meledak,
“Aohh, aahh,.. Sandra, saya coming Sandra.. saya coming!!” Sandra seakan tak perduli dengan rintihan saya, ia bahkan menaikkan tempo jarinya yang keluar masuk vagina saya dan jilatan-jilatannya yang makin keras pada kitoris saya.
“Aggh.. agh.. Aaahh..” saya menggelinjang begitu hebat, pantat saya naik- turun dengan gerakan tak beraturan, rasanya seperti pipis pertanda cairan vagina saya meyemprot keluar banyak sekali. Dan badan saya tetap menggelinjang lama sekali. Saya betul-betul orgasme hebat!! Sandra makin semangat menjilati vagina saya yang basah sampai licin tandas. Kemudian ciumannya melambat dan kemudian berhenti, Dipeluknya perut saya.
“Wah, Kinan, kamu liar sekali ya!” katanya nyengir. Saya hanya bisa tersenyum, kemudian menutup mata karena masih ingin menikmasti sisa sensasi yang barusan Sandra berikan pada tubuh saya.

Sandra meninggalkan saya masuk kamar mandi. Sekembalinya, ia robohkan badannya di sebelah saya. Saya raih dan peluk dia.
“Honey, kamu curang banget. Kamu nggak ngasih kesempatan buat saya cium kamu”. Dia menarik badannya sambil terkikik
“Oh, ternyata kamu juga enjoy ya? Tentu, nanti kamu bisa cium saya juga, sweety”. kali ini ia memeluk badan saya
“Kamu cantik, sweety, saya betul-betul suka sama kamu. Kamu begitu natural” katanya sambil mencium kening saya. Saya beringsut ke tubuhnya agar kita bisa berdekapan.
“Thank, s. kamu juga cantik, tau?”. Kami bersitirahat sekitar 10 menit sambil saling mengelus dan berdekapan. Kami sengaja menyetel MTV dengan volume rendah. Suara deburan ombak tidak membuat kami ingin menikmati malam itu diluar seperti yang direncanakan. Bahkan lapar pun saya tidak ingat. Saya begitu larut dengan orgasme hebat yang barusan saya alami. Gantian saya yang beranjak ke kamar mandi karena tak tahan ingin pipis.

Seselesainya saya dari kamar mandi, dengan berlilitkan handuk, saya nyalakan beberapa lilin untuk diletakkan di teras dan di dalam kamar, agar tak terlalu menarik perhatian tamu-tamu lain. Kami tak begitu menyukai sinar bohlam atau neon, apalagi ketika berada dekat alam seperti ini. Di kamar, Sandra sedang mengutak-atik handy cam-nya, yang sesiang tadi jarang ia gunakan karena takut tercebur ke sungai. Ia tiba-tiba menatap saya,
“Kinan, saya ada ide! Kita rekam yuk, buat koleksi pribadi, pasti cool!!”.

Tadinya saya tak setuju dengan ide gila itu. Tapi, ah, kapan lagi? Toh bulan depan ia akan kembali selamanya ke Paris. Mungkin ini akan menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Dipasangnya kamera itu di atas meja, menghadap ke salah satu queen size bed yang dipantulkan cermin rias, sehingga pada hasilnya nanti kami bisa melihat dari beberapa sisi. Saya akhirnya menurut saya dengan ide sinting itu, karna saya tahu Sandra bisa dipercaya untuk menjaga rahasia. Sandra mengeluarkan tas warna jingga dari traveling bag-nya. Wah apa lagi ini? Saya terhenyak karena ternyata tas itu berisi sex toys dengan berbagai macam bentuk. Sandra terkikik lagi .
“Hey jangan bengong, the show must go on!” Kemudian ia menyuruh saya duduk di ranjang menghadap meja rias. Tombol handy-cam telah ia tekan ke posisi ‘on’.

Sekarang ia duduk di meja rias, menghadap saya sambil tersenyum-senyum.
“Watch this out, baby”. Mengikuti irama musik dari MTV, Sandra menari-nari dihadapan saya, tangannya meliuk-liuk seperti penari ular, kemudian dia mulai memegang dan meraba-raba tubuhnya sendiri. kakinya dibuka sedikit. Wajahnya agak diangkat dan matanya menatap saya jahil, betul-betul menantang! Diremasnya payudaranya sendiri, kemudian ia tarik-tarik dan pelintir putingnya yang telah berwarna kemerahan dan mengeras itu dengan tatapan menggoda kepada saya.



Apakah Aku Seorang Lesbian ?

Posted: admin on Jun 18 | cerita sesama wanita | 23,413 views

Apakah aku seorang lesbian? Ah.. Ini pertanyaan yang tidak akan pernah bisa aku jawab. Pertanyaan ini timbul sejak aku masih duduk dibangku SMA kelas 3, dan berawal ketika aku bermain dirumah kawanku.. Renita.

Waktu itu.. Aku dapat dikatakan sebagai salah satu primadona disekolahku, banyak teman-teman cowokku yang suka padaku.. Tetapi semua kutolak secara halus, bukan karena aku tidak tertarik.. Tetapi aku sudah mempunyai cowok.. Dan cowokku itu sudah kuliah disalah satu PT Negeri.

Dikelas aku duduk sebangku dengan Renita.. Ia berasal dari Jabar, kulitnya putih sama dengan aku, rambut panjang hitam, dengan bentuk tubuh proposional sama dengan aku.. Sekilas orang melihat.. Kami akan disangka kembaran.. Bedanya hanyalah.. Rambut dia belah samping.. Sementara aku pony, selain itu Renita orangnya ceria.. Sementara aku pendiam.

Hari itu.. Hari sabtu, sepulang sekolah kira-kira jam 13, Renita mengajakku untuk bermain dirumahnya.. Karena tidak ada acara.. Akupun menerima ajakan itu..

Dan ini bukan yang pertama kali aku bermain dirumahnya.. Karena sering juga aku dan teman-teman yang lain main kerumah Renita, tetapi hari ini hanya aku saja yang diajak oleh Renita. Rumah Renita termasuk mewah juga.. Maklum karena bapaknya direktur utama disalah satu perusahaan ternama. Setibanya dirumah Renita atau Reni.. Panggilan akrabnya, mengajakku langsung kekamar nya yang berada dilantai dua, memang kamar Reni cukup besar.. Ada meja belajar berikut rak buku, ada seperangkat stereo tape, TV, vCD, dan lantainya beralaskan karpet seluruh ruangan, tempat tidurnya.. Cukup besar.. Aku tidak tahu ukurannya berapa.. Tapi mungkin dapat dikatakan ukuran double bed.. Kali.

Tiba didalam kamar.. Tentunya setelah melepaskan sepatu diluar pintu, akupun langsung duduk diatas karpet..

“Ren.. Ada majalah baru enggak..?” tanyaku.
“Ah.. Belum beli sih” sahutnya.
“Kita karaoke aja yuk.. Mau enggak?” sambung Reni.
“Boleh-boleh aja” sahutku, memang akupun juga senang nyanyi karaoke.

Lalu Reni pun membongkar-bongkar koleksi vCDnya.. Sementara aku duduk bersila memperhatikan apa yang dilakukan Reni, tiba-tiba..

“Oh iya.. Nia.. Ada film bokep nih.. Mau lihat enggak?” serunya,
“Dapat darimana film itu Ren..?” tanyaku balik.
“Tadi pagi gue ambil dari kamar si tony”, sahutnya.. Tony adalah kakaknya Reni.
“Boleh juga deh..” sahutku.

Lalu Reni memuter film itu dan duduk diatas karpet disebelahku, kami sama-sama duduk bersila menghadap TV 21 inch.. Sembari menyender ke ranjang. Selama menonton film bokep itu.. Kami sering tertawa cekikikan.. Tidak tahu apa yang lucu.. Mungkin hanya untuk menetralkan suasana aja.. Karena jujur aku terangsang juga melihat adegan dalam film bokep itu.

Ketika ada adegan lesbian dalam film.. Kami berduapun jadi terdiam.. Dengan mata mengarah kelayar TV, ketika kulirik.. Ternyata Reni pun jadi serius melihat adegan demi adegan dalam film itu..

Aah.. Uhh.. Ahh..

Terdengar rintihan dari dalam TV.. Diam-diam aku pun mulai gelisah.. Entah kenapa aku menjadi sangat tertarik sekali melihat adegan lesbian itu.. Sebentar-bentar aku meluruskan kedua kakiku.. Lalu bersila lagi.. Sementara Reni pun juga tampak mulai gelisah.. kadang-kadang dia memiringkan badannya kesamping.. Dan ketika aku bersila lagi.. Tanpa sengaja lututku menyentuh lutut Reni.. Tetapi Reni diam saja.. Dari sudut mataku aku dapat melihat Reni semakin serius menontonnya.

Tiba-tiba.. Reni membetulkan letak duduknya dan bahu kamipun saling bersinggungan. Aku diam saja.. Tidak lama kemudian.. Reni menaruh tangannya diatas pahaku, aku sedikit tersentak kaget.. Aku melirik ke arah Reni.. Tampak dia masih tetap asyik menonton..

Aahh.. Uuh.. Ahh..

Terdengar rintihan dari TV.. Dan tampak adegan semakin syurr.. tiba-tiba aku merasa tangan Reni itu mulai sedikit demi sedikit bergerak meraba pahaku.. Jantungku segera berdetak keras.. Segera aku memegang tangan Reni itu.. Terasa dingin tangan Reni itu.. Mungkin karena AC didalam kamar itu cukup dingin.. Lalu aku melirik lagi ke arah Reni.. Dan dia pun melirik juga ke arahku.. Aku tersenyum.. Diapun ikut tersenyum.. Aku menoleh ke arah dia.. Diapun menoleh ke arahku.. Sehingga kami saling pandang

Perlahan-lahan.. Aku merasakan Reni semakin memajukan wajahnya ke arah wajahku, entah kenapa aku pun berbuat hal yang sama sehingga kening kamu saling bersentuhan. Aku dapat merasakan hembusan nafas Reni yang tidak teratur ke arah wajahku, dan mungkin Reni juga dapat merasakan hembusan nafasku.. Hingga.. Hidung kami saling bersentuhan.. Lalu tanpa sadar aku meremas tangan Reni.. Dan iapun tersenyum.. Akupun tersenyum juga.. tiba-tiba Reni mengecup bibirku.. Akupun membalas mengecup bibir Reni.. Dia mengecup sudut bibirku sebelah kiri.. Aku pun melakukan hal yang serupa.. Dia mengecup sudut bibirku yang kanan.. Aku pun membalasnya.. Lalu Reni tersenyum.. Akupun tersenyum.. Tiba-tiba Reni menjulurkan lidahnya menjilat bibirku.. Mendesir darahku.. Dan akupun membalasnya.. Hingga tidak tahu siapa yang memulai duluan.. Akhirnya kami saling berciuman.. Terasa lidah Reni memasuki mulutku.. Dan menari-nari menjilati dalam mulutku.. Akupun juga melakukan hal yang sama.. Dengan nafas memburu kedua bibir kami saling bertaut..

Ooh.. Ahh.. Uuhh..

Terdengar suara dari TV, kami pun berhenti berciuman.. Reni tersenyum padaku.. Akupun tersenyum juga..

“Kita gila yaa..” seru Reni.
“Memang..”sahutku.
“Baru kali ini aku mencium perempuan” tambahnya.
“Aku juga” sahutku.
“Enak enggak?” tanyanya.
“Mhmm.. Enak.. Kamu?”
“Enak..” jawabnya.

Lalu aku mengecup bibirnya.. Dan kami berciuman lagi.. Akupun bergerak untuk berlutut dan Renipun melakukan hal yang sama.. Kuisap lidah Reni.. Dan dia membalas mengisap lidahku.. Dengan bibir saling bertautan akupun berusaha berdiri.. Demikian juga Reni.. Hingga akhirnya kita berdua berdiri.. Dan Reni memelukku.. Akupun membalas memeluk Reni dengan erat.. Cukup lama.. Kami berpelukan dan berciuman ketika..

Ooh.. Yess.. Oohh.. Yeess..

Terdengar suara dari TV, kami pun segera menoleh ke arah TV.. Lalu saling berpandangan lagi.. Lalu aku mengajak Reni naik ke atas ranjang.. Dan diatas ranjang itu kita berpelukan lagi.. Segera bibir kita saling bertautan lagi.. Kusedot air liur Reni.. Dan dia membalas dengan hal yang serupa.. Kukulum lidah Reni dalam mulutku.. Dan gantian dia mengulum lidahku dalam mulutnya.. Kami pun semakin erat berpelukan.. Guling kesamping.. Balik lagi.. Dan seterusnya..

Hingga akhirnya tubuh Reni tepat berada diatas tubuhku.. Kemeja Reni dan rambutnya tampak acak-acakan.. Demikian juga dengan pakaianku dan rambutku..

“Nia.. Nggkk..” seru Reni.
“Kenapa Ren..?” sahutku.
“Kamu.. cantik” serunya.
“Kamu juga”
“Kamu cantik”
“Kamu juga”
“Aku suka” seru Reni.
“Aku juga” sahutku.

Lalu Reni menjulurkan lidahnya.. Akupun juga ikut menjulurkan lidah ku hingga bersentuhan.. Ooh.. Nikmatnya.. Kami saling menjilat lidah masing-masing, lalu aku membalikan tubuh Reni sehingga kini aku berada diatasnya.. Lalu aku bergerak kesamping.. Dan duduk berlutut disisi kanan Reni, ku lihat rok Reni sudah tersibak naik.. Hingga kelihatan CD nya yang berwarna putih itu.. Lalu aku meraba paha Reni.. Aahh.. Reni mendesis dengan mata setengah terpejam.. Tangankupun terus naik ke atas hingga menyentuh tepian CD Reni.. Tampak oleh ku CD Reni sudah basah.. Dan saat itu aku yakin CD ku juga sudah basah.

Lalu aku menyusupkan telunjukku kebalik CD Reni dan segera menyentuh bulu-bulu kemaluan Reni.. Reni rada sedikit mengelinjang.. Kugerak-gerakkan telunjuku itu hingga menyentuh kemaluan Reni.. Oohh.. Reni mengeliat.. Sembari merenggangkan kedua pahanya, segera aku merasakan cairan kental dari vagina Reni..

Tiba-tiba Reni mengerakkan tangan kanannya ke atas dan memegang payudara ku yang sebelah kiri.. Dan tanpa disuruh segera dia meremas-remas payudaraku itu.. Oohh.. Aahh.. Aku mendesah merasakan nikmat.. Ooh.. Ren.. Rintih ku sembari menciumi paha Reni.. Yang putih mulus itu, Reni mengeliat lagi.. Kujilati paha Reni hingga lidahku menyentuh CD nya..

Aahh.. Nngkk.. Ahh.. Rintih Reni..

Lalu satu persatu kancing kemeja ku dilepasnya akupun segera beralih.. Ikut melepas kancing kemeja Reni.. Setelah itu kita berdua melepas kemeja kami bersama-sama.. Lalu bra kami pun kami lepas.. Reni pun memandangi payudaraku.. Sembari tersenyum..

“Nia..” serunya
“Mhmm”
“Payudara kamu gede yaa”
“Kamu juga” sahutku sembari mengelus-elus payudara Reni, lalu aku menciumi payudara Reni..

Oohh.. Reni mengelinjang lagi.. Akupun lalu mengisap-isap kedua puting payudara Reni, Reni hanya mengeliat-ngeliat saja keenakan.. Oohh.. Niaa.. Oohh.. Rintih Reni, tiba-tiba Reni menarik tubuhku hingga aku menindih tubuhnya.. Oohh.. Terasa hangat payudara Reni ketika dada kami saling bersentuhan.. Kamipun saling tersenyum.

Lalu tangan Reni turun kebawah dan melorotkan rok seragam sekolahku.. Akupun segera membantunya.. Hingga rok ku telepas dan kulempar ke atas karpet, lalu aku melorotkan rok Reni dan melempar juga ke atas karpet.. Kini tampak tubuh mulus Reni yang berbaring dihadapanku.. Kuperhatikan dari unjung rambut sampai ujung kaki Reni..

“Nia..”
“Ngk..”
“Jangan gitu dong” seru Reni.
“Kenapa..” sahutku sembari tersenyum padanya.
“Aku kan malu..” sahutnya dengan muka rada cemberut.
“Aku juga” sahutku.

Lalu Reni menarik tubuhku.. Dan kembali kami saling berpelukan.. Rupanya kami berdua sudah mencapai puncak rangsangan.. Bepelukan.. Berciuman.. Berguling kesana kemari sembari berpelukan.. Oohh.. Nikmatnya

Kini aku berada pada posisi dibawah.. Dan tubuh Reni menindih tubuku.. Lalu ia menciumi leherku.. Ouuhh.. Geli.. Akupun mengelinjang.. Dengan mata setengah terpejam.. Terus Reni beralih kedadaku dan dengan ganas mulai menjilati kedua payudaraku.. Ooh.. Aaakkhh.. Oohh.. Renn.. Renn.. Desahku dengan tubuh mengelinjang keenakan.. Apalagi ketika Reni mulai mempermainkan puting payudaraku dengan ujung lidahnya..

Aahh.. Bergetar hebat tubuhku merasakan nikmat itu.. Lalu jilatan Reni makin kebawah.. Kebawah.. Dan berhenti dipuserku.. Dan segera lidahnya bermain diatas puserku. Ooh.. Aku kembali mengelinjang.. Tapi tidak hanya sampai disitu.. tiba-tiba Reni memegang tepian celana dalam ku dan melorotkan CD ku itu hingga terlepas.. Lalu tampak dia memperhatikan kemaluanku yang terpampang di depan wajah nya.. Dielus-elusnya bulu2 kemaluanku yang masih sedikit itu.

Jantungku berdetak keras.. Aku merasa tegang.. Menunggu apa kira-kira yang akan dilakukan Reni.. Aaahh.. Desisku ketika Reni membenamkan wajahnya diselangkangku.. Oohh Renn.. Rennii.. Jeritku kecil ketika Reni mulai menjilati bibir vaginaku.. Nggkk.. Aakk.. Tubuhku mengelinjang hebat ketika lidah Reni mulai mempermainkan clitoris ku.. Kurapatkan kedua pahaku menjepit kepala Reni.. Tapi Reni tidak peduli.. Ia tampak asyik menjilati vaginaku.. Aku benar-benar merasa terbang.. Kedua tanganku hanya bisa meremas-remas sarung bantal.

Aku benar-benar merasakan nikmat luar biasa.. Baru kali ini aku merasakan dioral.. Nikmat sekali, dan akhirnya aku tidak bisa menahan nya lagi.. Sapuan lidah Reni pada vaginaku.. benar-benar membuat aku kelabakan.. Dan akhirnya aakk.. Ooh.. Reni.. Renii.. Aaakk.. Aku mengerang panjang dengan tubuh bergetar.. Kupegang kepala Reni dan kutekan kepala Reni hingga wajahnya terbenam diselangkanganku, rupanya aku telah mencapai klimaks.. Dan Reni terus saja menjilati cairan yang keluar dari vaginaku.. Oohh..

“Reni.. Ren..” seru ku dengan nafas masih memburu.
“Kenapa Nia..” jawabnya sembari tersenym padaku.
“Kamu.. Nakal ren”
“Kamu juga”
“Kamu..”
“Kamu juga”

Lalu aku menarik Reni ke atas tubuhku.. Dan wajahnya kini tepat dihadapan wajahku.. Tercium bau aroma kemaluanku dari mulut Reni.. Aku tersenyum.. Dan dia juga tersenyum.

“Gila Ren.. Aku belum pernah merasakan begini” seruku.
“Enak?”
“Enak.. Ren.. Enak” sahutku dengan nafas masih memburu.

Lalu kucium bibir Reni itu.. Dan dia membalas ciumanku itu.. Kupeluk tubuhnya dengan erat.. Dan kubalikkan tubuhnya hingga kini aku berada diatasnya..

“Gantian yaa.. Ren” seruku.
“Kamu mau..?” serunya.
“Mau..” jawabku.
“Benar?” tanyanya.
“Benar..” jawabku.
“Enggak jijik” tanyanya.
“Nggak” sahutku dengan tersenyum.

Padahal akupun tidak tahu apakah aku bisa.. Tapi rasanya kurang sempurna kalau aku belum memuaskan Reni.. Dan ini spontan aku lakukan. Lalu kupegang kedua tangan Reni.. Dan kupentangkan kedua tangan Reni kesamping.. Lalu aku mulai menciumi lehernya. Oooh.. Reni mengeliat keenakan.. Kuciumi.. Kujilati leher Reni.. Terus turun kedada.. Dan akhirnya ujung lidah ku bermain diatas puting payudara Reni.. Kulirik Reni.. Tampak dia memejamkan matanya.. Dan nafasnya juga mulai memburu..

Akupun terus menjilati dada Reni.. Terus kebawah.. Kebawah hingga kebagian pusernya.. Kujilati puser Reni itu.. Terasa beberapa kali tubuh Reni terhentak.. Ooh.. Niaa.. Aahh.. Desahnya, lalu aku beralih kebawah puser nya.. Tampak bulu-bulu kemaluan Reni yang masih jarang itu.. Dan bentuk kemaluannya.. Ouuhh.. Indahnya

Kujilati bibir kemaluan Reni.. Aaahh.. Reni mendesah. Terasa asin.. Tapi aku tidak peduli.. Kujilati terus.. Kupermainkan clitorisnya dengan ujung lidahku.. Ooh.. Nia.. Oohh.. Ampunn.. Ampunn.. Erang Reni dengan tubuh mengelinjang.. Mendengar erang Reni itu, aku tambah bernapsu.. Kujilati lagi belahan vagina Reni.. Yang masih virgin itu.. Dan hal ini membuat tubuh Reni tersentak-sentak.. Niaa.. Ampunn.. Nia.. Ampunn.. Erang nya.. Kedua tangannya segera mengacak-ngacak rambutku diremas-remasnya kepalaku.. Dan dicambak-cambaknya rambut ku.. Tapi aku menikmati.. Kusedot clitoris Reni.

Dan.. Aaakk.. Niaa.. Niaa.. Nggkk.. Reni mengerang panjang dengan tubuh mengejang.. Segera kedua pahanya menjepit kepalaku.. Dan seketika aku merasakan vagina Reni semakin basah.. Rupanya Reni telah mencapai klimaks.. Kujilati cairan itu.. Asin.. Tapi nikmat..

“Nia.. Niaa.. sudah Nia.. sudah..” seru Reni memelas.

Akupun tersenyum.. Lalu ia menarik tubuhku ke atas lagi dan dengan penuh gairan.. Dilumatnya bibirku.. Aku juga membalas melumat bibirnya.. Akhirnya kami berdua terbaring lemas bersebelahan.. Setelah beristirahat sejenak..

“Nia..” seru Reni.
“Mmhm..”
“Kamu nakal”
“Kamu juga”
“Kita sama-sama gila yaa” serunya.
“Sama-sama nakal” sahutku.
Lalu Reni menoleh padaku dan tersenyum.. “Kita mandi yuk”
Serunya, “Yuk..” lalu kami berdua bangun.. Tampak di TV sudah tidak ada gambar apa-apa lagi..

Kami mandi bersama.. Sembari becanda dan tertawa cekikikan.. Saling menyabuni dan saling iseng mencolek-colek.. Entah payudara entah keselangkangan..

Seusai mandi.. Ketika aku sedang mengeringkan rambutku dengan handuk.. tiba-tiba HP ku berbunyi..

“Halo.. Nia” terdengar suara cowokku.
“Halo sayank..” jawabku.
“Gimana nanti malam jadi enggak kita nonton?” serunya.

Akupun terdiam.. Kulihat Reni yang masih telanjang itu memandang ke arahku dengan penuh harap.

“Jangan nanti malam yaa” seruku.
“Loh kenapa..?” protes cowokku.
“Aku sekarang nginap dirumah Reni” seruku.

Tiba-tiba Reni menghampiriku dan merebut HP ku..”Hallo Mas” Serunya.. “Iya.. Nanti malam Nia nginap disini.. Boleh kan” serunya, aku hanya tersenyum saja memperhatikan itu. Lalu Reni menyerahkan HP ku itu kembali.

“Hallo..” seruku.
“Hallo.. Yaa.. sudah enggak apa-apa tapi besok siang aku jemput kamu yaa..” seru cowokku.

Setelah aku menutup telphon, Reni segera memelukku dan aku membalas pelukannya.. Oohh.. Indahnya.

Malam itu aku menginap dirumah Reni, kita makan malam bersama keluarga Reni.. Dan aku dipinjamkan daster oleh Reni. Dan malamnya sebelum tidur.. Kami meneruskan permainan sex kami, bahkan kami meniru beberapa adegan dalam film bokep yang kami tonton bersama.. Nikmat sekali.. Hingga akhirnya kami mencapai kepuasaan lagi, kelelahan dan tertidur sama-sama telanjang.. Dan saling berpelukan dibawah selimut.

Sejak kejadian itu.. Kami semakin akrab.. Di sekolah kami selalu bersama-sama.. Dan kami sering tidur bersama.. Entah dirumah Reni atau dirumahku.

Cowokku..? Ah.. Dia tidak mengetahui hubunganku dengan Reni.. Sampai sekarang.

Akhirnya akupun harus berpisah dengan Reni.. Dia disekolahkan oleh orang tuanya ke Jerman.. Sementara aku meneruskan kuliah disini.. Sampai saat aku menulis cerita ini.. Kami masih saling berhubungan surat.. Bukan itu saja.. Seminggu minimal 2x kami berkomunikasi via chating.. Tentu saja dengan voice dan webcam.. Sehingga kami bisa saling melepas rindu.. Oh.. Reniku.. Renitaku..

9 komentar:

  1. www.zengda-farma.blogspot.com


    Meizitang adalah supplemen diet terbuat dari 100% bahan herbal yang akan mengontrol nafsu makan, membuang timbunan lemak dengan capat,
    menurunkan berat badan dengan aman dan efektif, tanpa terasa lemas/BAB berlebihan, langsung dapat dirasakan efeknya sejak pertama kali dikonsumsi.

    * Bentuk SOFTGEL
    * Langsung Diserap Tubuh
    * Bekerja Cepat Sejak Pertama Kali Minum
    * Tanpa Olah Raga
    * Tanpa Operasi
    *Tanpa Diet Ketat
    * Tanpa Suntik

    Dijamin Cepat Menurunkan Berat Badan
    Mulai 8 s/d 10 Kg Dalam 36 Hari
    Meizitang Botanical Slimming Capsule adalah Best Seller Product untuk menurunkan berat badan yang berlebihan.


    KELEBIHAN MEIZITANG SLIMMING SOFTGEL :
    1. Bentuknya seperti Vitamin berupa Softgel
    2. Sangat Aman Dikonsumsi Karena 100% Herbal
    3. Mengandung Berbagai Macam Tumbuhan
    4. Sangat Cocok dikonsumsi Bagi Yang Mau Diet Cepat dan Ga Buat Kulit Kusam
    Komposisi
    Ekstrak ZiSu 25%
    Ekstrak oriental water plaintai 13%
    Ekstrak cassia seed 10%
    Ekstrak fuling 17%
    Medical Amylum 35%
    Spesifikasi
    30 kapsul per pack (650 mg x 12 pill x 3pcs)
    Ukuran: 12,4 x 16,9 cm untuk satu pack
    Penggunaan
    Diminum 1 kali sehari. Minum 1 kapsul setiap hari sebelum makan pagi / sarapan)

    Harga Promo

    1paket Rp 200.000
    3paket Rp 500.000


    Customer Care 24 jam
    .0819 0411 0616
    .0896 2485 4268


    KAMI MELAYANI PESANAN KE LUAR KOTA/PULAU DI SELURUH INDONESIA MELALUI JASA POS XPRESS / TIKI / JNE.
    Pembayaran via transfer ke salah satu rekening kami;

    BCA 40904-02-884
    BNI 0237-544-555
    BRI 3006-01-016364-532
    MANDIRI 90000-02004-811


    - Konfirmasi .

    - Deal.

    - Transfer.


    Transfer maksimal pukul 18.00 wib,lewat dari jam 18.00 wib barang dikirim keesokan harinya.

    1) Kirim SMS ke salah satu No HP kami (online 24 jam)
    Nama & alamat pengiriman,serta cara pembayaran yang di inginkan transfer melalui BCA-BNI-MANDIRI-BRI.

    Contoh (format SMS bebas, tidak perlu takut salah):
    Transfer Via BCA 250.xxx cialis,Alexander, Jl.asia afrika No.XXX , Denpasar.

    2) Setelah sejumlah uang masuk ke rekening kami,anda akan mendapatkan SMS yang menyatakan bahwa pembayaran anda telah kami terima dan pesanan akan segera kami kirim via jasa pengiriman paket.

    Catatan:
    Kami menjamin kwalitas product kami,dan kami akan mengembalikan 100% uang anda jika pesanan tidak sampai ke alamat tujuan.



    SALAM MANIS_ZENGDA FARMA

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus